Main Menu

Analis: Turunnya Harga Saham Adaro Karena Pelaku Pasar Reaktif

didi
31-07-2018 18:11

Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa 31/7 (ANTARA FOTO/Reno Esnir/afn)

Jakarta, Gatra.com - Harga saham emiten di sektor pertambangan batubara hari ini Selasa (31/7) ditutup di teritori negatif. Sektor mining hari ini ditutup anjlok paling tajam dibanding sektor lainnya, atau turun 2,72%.


Salah satu emiten batubara yang turut mengalami penurunan cukup dalam adalah PT Adaro Energy Tbk. Saham emiten berkode ADRO hari ini dibuka di angka 2.070, dan melemah 185 poin atau 8,85% ke angka 1.905

William Siregar, Analis di PT Paramitra Alfa Sekuritas mengatakan, secara general penurunan tajam tersebut ada kaitannya dengan pembatalan rencana penghapusan Domestic Market Obligation (DMO) batubara.

“Tapi saya kira market terlalu reaktif merespon ini, termasuk bagi saham ADRO. Kalau dilihat, jika memang penghapusan DMO disetujui dan dijalankan juga efeknya tidak terlalu signifikan, karena nilainya hanya 25%,” ujar William kepada Gatra.com.

Ia menambahkan, dinamika penurunan harga saham seperti ini adalah hal yang wajar di pasar modal. Hal senada dikatakan Analis Teknikal dari Binaartha Sekuritas, Nafan Aji. Menurutnya pergerakan harga ADRO secara konsisten masih bertahan di atas garis tengah dari bollinger dan garis MA 10.

“Akumulasi Beli pada area level 1860 – 1910, dengan target harga secara bertahap di level 1980, 2070, 2280 dan 2490,” jelas dia.

Sebelumnya diberitakan, rencana Menko Kemaritiman Luhut Pandjaitan yang akan menghapus Domestic Market Obligation (DMO) batubara, akhirnya batal. Presiden RI Joko Widodo memutuskan, tetap memberlakukan Domestic Market Obligation (DMO) 75% batubara dan harga khusus (price cap) US$70 untuk kalori 6.332 GAR.

"DMO batubara, arahan Bapak Presiden diputuskan sama seperti sekarang," kata Menteri ESDM, Ignasius Jonan di Komplek Istana Kepresidenan Bogor.

Karena DMO batubara tetap berlaku, kata Jonan, maka tidak ada perubahan regulasi apa pun. Di Kepmen ESDM No. 23K/30/MEM/2018 menetapkan, minimal 25% produksi batu bara harus dijual ke PLN. Sedangkan Kepmen ESDM No. 1395 K/30/MEM/2018 tentang Harga Batu Bara untuk Penyediaan Tenaga Listrik, mewajibkan DMO harga batu bara sektor ketenagalistrikan maksimal US$ 70 per ton untuk kalori 6.332 GAR.
"(Price cap) tetap. Nggak ada penghapusan DMO," kata Jonan.

Menurut Jonan, DMO merupakan mandat Undang-Undang No.4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, sehingga DMO harus dipertahankan.

"Besarannya diatur oleh Menteri (ESDM). Kalau price cap US$ 70 sudah ada aturannya juga. Jadi tetap sama. Putusan Pak Presiden ini jalan saja seperti sekarang saja," ujarnya.


Reporter: Didi Kurniawan
Editor: Arief Prasetyo

didi
31-07-2018 18:11