Main Menu

BEI Diminta Tunda Aksi Korporasi Saham BFI Finance

didi
08-08-2018 17:22

PT BFI Finance Indonesia Tbk.(Dok. GATRA/FT02)

Jakarta, Gatra.com - PT Aryaputra Teguharta (PT ATP) mengaku memiliki 32,32% PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) meminta kepada PT Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk menunda rencana aksi korporasi BFIN yang akan melepas 2,98 milyar saham ke investor asing.


Menurut manajemen PT ATP melalui kuasa hukumnya, Asido M. Panjaitan, keputusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) yang menetapkan PT ATP sebagai pemilik 32,32 saham BFIN seharusnya bisa disikapi BEI dengan menunda aksi korporasi BFIN terkait pelepasan saham kepada dua investor asing.

"BEI sebagai penyelenggara bursa harus melakukan tindakan konkret untuk menindaklanjuti Penetapan Penundaan dari PTUN, seperti juga delisting atau suspensi atas saham BFIN," ujar Asido di Jakarta, Rabu (8/8).

Sebelumnya diberitakan, Trinugraha Capital & Co CSA yang memiliki 42,81% saham di BFIN berencana melepas kepemilikannya sebesar 2,98 milyar saham kepada dua investor institusi asing.

Menurut Direktur BFIN, Sudjono dalam keterbukaan informasi yang dilansir BEI, Trinugraha akan menjual sahamnya sebanyak 2.977.912.340 unit ke Compass Banca SpA yang merupakan anak usaha Mediobanca.

"Sedangkan, sebanyak 1.646.000 unit ke Star Finance SRL," katanya.

Manajemen Mediobanca dalam siaran persnya menyampaikan, pembelian sebesar 19,9% dari total saham BFIN sebagai jembatan untuk masuk ke sektor keuangan Indonesia.

Lebih lanjut Asido menegaskan, rencana penjualan saham sebanyak 19,9% itu sebagai akal-akalan BFIN untuk menghindari ketentuan pasar modal dengan alasan tidak terjadi perubahan pemegang saham pengendali.

"Kalau BFIN melepas di atas 20%, maka mereka harus tunduk ke aturan Bursa, karena terjadi perubahan pemegang saham pengendali. Rencana ini mirip dengan yang mereka lakukan pada tahun 2001," tuturnya.

Asido mengungkapkan, jika rencana pembelian saham sebanyak 19,9% saham oleh Compass Banca S.P.A. yang 100% sahamnya milik Mediobanca S.P.A (private investment bank dari Italia) tetap dipaksakan maka terdapat prinsip hukum caveat emptor.

"Prinsip tersebut menghendaki calon pembeli harus beritikad baik. Maka, sebelum membeli saham-sahamnya sudah tahu bahwa BFIN sedang dalam sengketa. Tentu, tidak bisa dikatakan bahwa Compass Banca S.P.A. adalah pembeli yang beritikad baik, karena akan berhadapan dengan konsekuensi hukum," paparnya.

Dengan demikian, lanjut dia, PT APT akan melakukan tindakan hukum meminta pertanggungjawaban terhadap semua pihak terkait. “Jika Compass Banca S.P.A merupakan real investor yang independen dan memiliki kredibilitas internasional, sudah pasti mereka tidak akan mau main tabrak dengan mengabaikan sengketa hukum," ujarnya.


Reporter: Didi Kurniawan
Editor: Arief Prasetyo

 

didi
08-08-2018 17:22