Main Menu

Kebat-kebit di Balik Manisnya Bitcoin

Dani Hamdani
11-03-2014 15:53

Jakarta, GATRAnews - Jauh-jauh dari London, Kolin Burges datang ke Tokyo dengan hati risau. Itu karena ia tidak bisa mengakses bitcoin miliknya yang dikelola Mt. Gox. Perusahaan yang berbasis di Jepang itu tidak memberi penjelasan yang memadai sehingga mantan programer komputer itu khawatir dengan nasib bitcoin yang disimpannya. Nilainya tidak sedikit, setara dengan US$ 173.000. Burges ingin Mt. Gox mengembalikannya. 

 

Dia berdiri di depan kantor Mt. Gox dengan pamflet bertuliskan tuntutannya. Aksi Burges itu berakhir sia-sia. Dia kembali ke London dengan tangan hampa. Mt. Gox "tenggelam" membawa uangnya. Namun, aksinya di pekan terakhir Februari itu mengundang liputan media, lalu membuat kasus Mt. Gox menjadi sorotan dunia. 

 

Sepanjang pekan terakhir Februari itu, pengurus Mt. Gox cenderung diam seribu bahasa dan memutus komunikasi dengan investor. Kebisuan itu pecah ketika Mark Karpeles, CEO Mt. Gox, membuat pernyataan maaf di Pengadilan Distrik Tokyo, Jumat sore pekan lalu. 

 

Wajah kuyunya tidak bisa disembunyikan. Dia membungkuk dan mengucapkan maaf dalam bahasa Jepang. Dia mangaku perusahaannya ambruk karena kelemahan sistem keamanan. 

 

Didampingi pengacaranya, Karpeles menyatakan perusahaannya bangkrut dan meminta perlindungan hukum. Saat itu baru terungkap jika Mt. Gox kehilangan 750.000 bitcoin milik konsumennya, plus 100.000 bitcoin milik perusahaan. 

 

Nilainya sekitar US$ 493 juta (Rp 5,7 trilyun) jika kurs 1 bitcoin setara US$ 580 (berdasarkan data coindesk.com saat berita ini ditulis). Jumlah itu sekitar 7% dari total bitcoin yang beredar sekarang. 

 

Karpeles menuding hilangnya bitcoin itu gara-gara peretas menjebol sistem keamanan komputernya. Dengan memanfaatkan kelemahan itu, peretas bisa membuat situasi seakan-akan pengiriman bitcoin yang dipesan gagal. Karena sistem menganggap gagal, Mt. Gox akan mengirim sekali lagi. 

 

Akio Shinomiya, pengacara Karpeles dari Kantor Hukum Yodoyabashi & Yamagami, mengatakan, Mt. Gox berniat mengajukan tuntutan hukum terkait dengan kejahatan peretas yang mencuri bitcoin. 

 

Namun tidak ada pasal hukum yang bisa dipakai sebagai sandaran. Dalam dokumen pengajuan pailit, Mt. Gox melaporkan kewajiban sebesar 6.5 milyar yen (US$ 63,67 juta), sementara total asetnya 3,84 milyar Yen. 

 

Mt. Gox memiliki 127.000 investor, 1.000 di antaranya berasal dari Jepang. Dengan mengajukan perlindungan pailit, Mt. Gox bisa menunda pembayaran utang-utangnya dan terhindar dari penagihan paksa kreditur. 

 

Namun penjelasan Mt. Gox ini tidak bisa diterima semua orang. Menurut mereka, perlu dipastikan apakah uang itu hilang dicuri atau salah urus. Diperkirakan, butuh waktu berbulan-bulan bagi auditor untuk mencari tahu kejadian yang sebenarnya. 

 

''Kemungkinan yang paling besar, ini akibat tata kelola yang sangat-sangat buruk,'' ujar Nicolas Christin, peneliti keamanan komputer di Carnegie Melon University. 

 

Hal itu pula yang mendorong lahirnya upaya class action melawan Mt. Gox pasca-pengumuman pailit tersebut. Class action itu disiapkan Selachii LLP, sebuah firma hukum di London yang mewakili 200 orang investor Mt. Gox yang berasal dari Cina, Kanada, Amerika Serikat, dan negara-negara Eropa. 

 

Salah satu investor kehilangan 4.000 bitcoin yang nilainya sekitar US$ 2,3 juta. Mereka mengincar harta pribadi Mark Karpeles untuk mengganti kerugian. Induk perusahaan Mt. Gox, Tibanne, yang didirikan Mark Karpeles, juga digugat.

 

Menurut Richard Howlett dari Selachii, pengadilan akan memaksa Mt. Gox dan Karpeles untuk membuktikan bahwa bitcoin dalam jumlah besar itu memang telah diretas. 

 

''Saya tidak tahu apakah benar mereka telah diretas. Tidak seorang pun yang tahu. Hal itu yang akan terungkap di pengadilan. Saya akan terkejut jika mereka memang benar-benar telah diretas begitu saja,'' kata Howlett. 

 

Jika tuntutan hukum ini berlanjut, akan sangat menarik untuk melihat apakah ganti ruginya dalam bentuk bitcoin atau uang konvensional. 

 

 

Nilai bitcoin bisa jadi akan terus meningkat bersamaan dengan berjalannya kasus. Menurut Howlet, kebanyakan kliennya tidak menuntut bitcoin-nya asal uangnya bisa dikembalikan. 

(Rosyid dan Flora Libra Yanti) 

[LAPORAN UTAMA, Majalah GATRA Edisi no 18 tahun ke 20, Beredar 6 Maret 2014]

Dapatkan edisi digital di toko-toko berikut ini

GATRAapps, Wayang Force, Scoop, Scanie, Indobook, Majalah Indonesia

 

Dani Hamdani
11-03-2014 15:53