Main Menu

Penetrasi Perbankan Rendah Fintech Jadi Pelengkap

Mukhlison Sri Widodo
29-08-2018 02:04

Bhima Yudishtira.(ANTARA/re1)

Jakarta, Gatra.com - Penetrasi layanan keuangan di Indonesia, khususnya di bidang kredit atau pembiayaan dinilai masih rendah. 

 

Hal ini ditunjukkan oleh rasio penyaluran kredit pada Produk Domestik Bruto (PDB) yang masih 39,1 persen menurut catatan World Bank pada 2015. 

Namun, penetrasi yang kurang optimal itu kini mulai didorong perkembangan sektor financial technology (Fintechh). Platform ini muncul untuk melengkapi jasa keuangan yang sudah ada di perbankan dan dapat menjadi kerjasama yang saling menguntungkan. 

“Perbankan itu kan the most regulated industry, bukan hanya di Indonesia, tapi di dunia. dan kini Fintech jadi salah satu channelnya perbankan, maka Fintech mau gak mau harus tunduk dibawah aturan perbankan,” kata Bhima Yudishtira, ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF). 

“Jadi ada komponen di situ (antara bank dan fintech) yang kita lihat saling menguntungkan. Itu salah satu point untuk menghindari fraud,” jelas Bhima lagi dalam acara pada Launching Penelitian dan Diskusi Publik  yang digelar Indef di Satrio Tower, Jakarta Selatan, Selasa (28/08). 

Sedangkan menurut Aria Widyanto selaku Vice Presiden of Strategy and Partnership PT Amartha, saat ini yang menjadi tantangan para pelaku usaha Fintech adalah bagaimana untuk lebih mengedukasi masyarakat mengenai Fintech sendiri. 

“Jadi di Fintech itu kan ada berbagai macam, ya. (Contohnya) Ada yang lending, memberikan pinjaman ke sektor produktif seperi Koinworks dan Amartha. Dan sebagainya. Juga harus hati-hati dan bertanggung jawab,” ujarnya

Secara input-output, FinTech telah meningkatkan PDB sebesar Rp 25,97 trilyun dan menyerap hingga 215.433 orang tenaga kerja. 


Reporter : CH
Editor : Mukhlison

Mukhlison Sri Widodo
29-08-2018 02:04