Main Menu

CROWDE Ajak Investor Muda Bantu Para Petani

Aries Kelana
30-08-2018 18:43

Skema Syariah Musyarakah yang ada di CROWDE.(Dok. CROWDE/re1)

Jakarta, Gatra.com -- CROWDE hadir mengajak para investor muda untuk membantu memerdekakan nasib petani Indonesia. Dengan menyalurkan dana investasi menggunakan sistem crowd-investment untuk memodali beragam proyek usaha tani.

Ajakan itu dalam waktu relatif singkat mendapat respon positif. Sudah lebih dari 17.000 investor yang bergabung, membantu 1.000 petani di lebih dari 30 wilayah di Indonesia. “Dalam 1 tahun terakhir ini, CROWDE berhasil menyalurkan permodalan hingga 50 miliar," kata Yohanes Sugihtononugroho, Founder & CEO CROWDE, dalam rilisnya yang diterima Gatra.com (30/8).

Angka ini bisa terus bertambah, lanjut Yohanes, jika semua orang punya visi yang sama untuk menyejahterakan petani. Momentum kemerdekaan menjadi momen terbaik untuk tanamkan keberanian memerdekakan kesejahteraan tulang punggung pertanian di Indonesia.

Saat ini jumlah penduduk Indonesia menembus angka 266 juta jiwa. Dari jumlah itu, 40 juta di antaranya berprofesi sebagai petani. Tapi sayang, setengah dari jumlah petani itu berada di bawah garis kemiskinan. Padahal sektor pertanian Indonesia menyumbang PDB (produk domestik bruto) sebesar 13,26%. Ditambah, setiap tahun petani harus mencukupi kebutuhan 33,47 juta ton beras. Miris saja bila petani kita masih juga belum sejahtera.

“Petani masih sangat bergantung pada bantuan pupuk dan pestisida gratis dari pemerintah. Hanya saja rumitnya sistem birokrasi, membuat bantuan itu kadang tersendat. Sehingga petani harus berupaya untuk membelinya sendiri”, ungkap Yohanes.

Akibatnya, laba yang didapatkan petani menjadi berkurang. Ditambah lagi, lahan pertanian yang berkurang 150.000 sampai 200.000 hektare setiap tahunnya. Padahal pada 2013, luas lahan pertanian Indonesia mencapai 7,75 juta hektare. Berarti dalam kurun waktu 38 tahun lagi, lahan pertanian kita akan habis. Padahal petani hanya menggantungkan hidupnya pada lahan mereka.

Ditambah lagi sulitnya akses permodalan, menambah derita mereka. Hanya sekitar 15% petani yang bisa mengakses permodalan. “Petani butuh modal untuk memulai usahanya, namun mereka kesulitan. Jadi petani cuma bisa bergantung ke rentenir, padahal rentenir tidak berpihak pada kesejahteraan petani”, tambahnya.


Editor: Aries Kelana

 

Aries Kelana
30-08-2018 18:43