Main Menu

Reformasi Perpajakan Menyentuh Semua Aspek Penting

Sandika Prihatnala
16-02-2018 05:38

Ilustrasi (Shutterstock/FT02)

Jakarta, Gatra.com - Meski tahun 2017 realisasi pajak mengalami peningkatan yang terbilang signifikan, rasio pajak masih rendah. Perlu kelanjutan reformasi pajak untuk tetap menjaga konsistensi dalam penerimaan.

 

Sebelumnya Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut rasio pajak hanya 10,8 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Melihat kenyataan itu, pemerintah kini sedang melakukan reformasi perpajakan secara total agar mampu menjangkau potensi pajak yang lebih luas.

Direktur Jenderal Pajak Robert Pakpahan kepada Gatra mengatakan reformasi perpajakan terus dilakukan dari waktu ke waktu. Termasuk kebijakan Tax Amnesty adalah bagian dari reformasi kebijakan yang cukup besar. 

“Ibu menteri melaunch reformasi pajak komprehensif ada lima pilar organisasi, SDM perpajakan, proses bisnis, system teknologi informasi, serta peraturan dan regulasi,” katanya, Kamis (16/2) lalu.

Semua itu, lanjutnya, merupakan time frame jangka pendek, menengah, dan panjang yang sebelumnya sudah didasarkan pada assessment internal dan eksternal. Reformasi perpajakan berlangsung cukup panjang dan menyentuh semua aspek penting.

“Saya masuk, itu sedang berjalan,” ungkapnya.

Reformasi perpajakan terbilang penting. Terlebih, telah masuk dalam Revisi Undang – Undang (RUU) Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP) yang sedang dalam pembahasan bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Sementara, dalam Anggarap Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018, pemerintah menargetkan penerimaan pajak sebesar Rp 1.424 triliun. Angka itu naik 20 persen dari realisasi penerimaan pajak sepanjang 2017 yang mencapai Rp 1.151 triliun.


 Editor : Sandika Prihatnala

Sandika Prihatnala
16-02-2018 05:38