Main Menu

Melirik Peluang Green Bond

Sandika Prihatnala
19-03-2018 14:24

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Lucky Al Firman. (Dok. DJPPR Kemenkeu/FT02)

Jakarta, Gatra.com - Obligasi hijau menjadi alternatif pendorong pertumbuhan ekonomi. Sifatnya yang ramah lingkungan selaras dengan komitmen pengurangan emisi.

 

Indonesia menjadi negara pertama di Asia yang menjual 'obligasi hijau'. Demikianlah tajuk utama sejumlah kantor berita terkemuka . Salah satunya Reuters. Pada edisi kamis, 22 Februari, media itu memberitakan bahwa Indonesia melepas jenis investasi berbasis sukuk dengan nilai US$ 1,25 milyar ke pasar global. Oblogasi ini berjangka waktu lima tahun dengan bunga 4,05%. Reuters menyebut dana yang diincar oleh pemerintah Indonesia adalah sebesar US$ 300 juta dalam penerbitan ini.

Tak hanya itu, pihak swasta yakni Tropical Lanscapes Finance Facility (TLFF) selaku multi stakeholder grup perusahaan swasta Indonesia, juga resmi menawarkan obligasi hijau senilai US$ 95 juta. Langkah ini menjadikan TLFF sebagai perusahaan pertama di Asia yang menjawarkan oblihasi hijau.

TLFF adalah lembaga keuangan yang menjajakan green bond dalam lima seri. Dana hasil penjualannya untuk membiayai hutan tanaman industri (HTI) karet alam milik PT. Royal Lestari Utama – sebuah perusahaan patungan grup Barito Pacific dengan Michelin, perusahaan asal Perancis.

Soal kabar tersebut, Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Lucky Al Firman, mengungkapkan bahwa per Kamis malam, 1 Maret lalu, pemerintah melalui Kemenkeu telah melakukkan settlement dengan menerbitkan yang namanya Sukuk Global senilai US$ 1,75 milyar. Untuk sukuk yang bertenor lima tahun, pemerintah juga menerbitkan pembiayaan green bond.

“Green Sukuk Bond itu diterbitkan dalam tenor 5 tahun dan nilainya US$ 1,25 milyar, imbal hasilnya itu 5 tahun 3,75%, yang 10 tahun itu 4,4%,” kata Lucky kepada M Egi Fadliansyah dari Gatra melalui sambungan telepon.

Menurutnya, pemerintah berkomitmen dalam penerbitan green sukuk tersebut. Hal tersebut dibuktikan dengan US$ 1,25 milyar atau sekitar Rp 16,7 trilyun sudah masuk lis untuk mengindentifikasi proyek apa saja yang masuk dalam kategori green.

Ketua Umum Indonesia Forestry Certification Cooperation (IFCC) Drajad H Wibowo, mengatakan bahwa green bond terbitan Indonesia cukup prospektif. Alasannya, segmen investor memiliki kepedulian cukup tinggi terhadap masalah lingkungan dan juga sosial, termasuk mengenai hak asasi manusia.

Contohnya, lanjut Drajad, Norges Bank Investment Management, fund manager terbesar di duni amilik Bank Sentral Norwegia ini menarik dananya dari Freeport karena alasan lingkungan dan dan dari Wal Mart karena alasan sosial dan hak pekerja.

“Baru kalau ada masalah lingkungan atau sosial mereka bereaksi,” katanya kepada Aulia Putri Pandamsari dari Gatra


Editor : Sandika Prihatnala

Untuk tulisan lebih lengkap bisa dibaca di Majalah Gatra terbaru edisi 20/XXIV yang terbit Kamis (15/3)

Sandika Prihatnala
19-03-2018 14:24