Main Menu

INDEF : Pajak Bukan Pertimbangan Utama Investor

Sandika Prihatnala
06-04-2018 00:11

Mohammad Reza Akbar (indef.or.id/yus4)

Jakarta, Gatra.com - Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai rencana pemberian insentif pajak yang baru haruslah berbeda dengan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No 18 Tahun 2015 yang sepi peminat karena rumitnya prosedural. Selain itu, harus ada kepastian apakah pengajuannya dikabulkan atau tidak.

 

“Kebijakan baru ini harus lebih mudah prosedurnya dan memberikan kepastian,” kata Peneliti INDEF, Mohammad Reza Akbar kepada Gatra, Selasa (3/4).

Namun, ada beberapa catatan terkait poin-poin dalam PMK yang sempat dipaparkan kepala BKF. Misalnya investasi minimum untuk mengajukan libur pajak di mulai dari 500 milyar. Ini setengah dari ketentuan di PMK lalam. Menurut Reza, angka ini masih berat bagi investor lokal di tengah kondisi perekonomian saat ini.

“Mungkin bisa lebih dilonggarkan lagi. Bisa besaran minimumnya bisa diturunkan lagi,” katanya.
Catatan lainnya, jangan hanya melihat besarnya nilai investasi. Diperhatikan juga bagaimana dampaknya terhadap penyerapan tenaga kerja.

“Percuma kalau investasi misalnya Rp 30 T (triliun – red) lalu tax holiday sampai 20 tahun tapi penyerapan tenaga kerjanya sedikit karena dia padat modal,” ia mengingatkan.

Nah, pertanyaannya kemudian apakah kebijakan baru ini akan menggairahkan industri, terutama hulu? Menurutnya, perkara pajak bukan pertimbangan utama investor membuka bisnis. Mereka mempertimbangkan pertumbuhan ekonomi dan daya beli sebagai faktor primer. selanjutnya terkait ketenaga kerjaan, infrastruktur dan distribusi sumber energi. Baru sisi fiskal.

“Pertumbuhan ekonomi, pasar, daya beli, itu dari sisi makro yang fundamental sekali,” katanya.



Reporter : Putri Kartika Utami

Editor : Sandika Prihatnala

Sandika Prihatnala
06-04-2018 00:11