Main Menu

Pertamina Harap PGN Lebih Terbuka Tetapkan Harga Gas

didi
12-11-2015 14:09

Industri Migas (ANTARA/Rosa Panggabean)

Jakarta, GATRAnews - PT Pertamina (Persero) mengharapkan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk lebih terbuka dan transparan dalam penetapan harga gas untuk konsumen, khususnya di Sumatera Utara.

 

VP Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro mengatakan, untuk wilayah Sumatera Utara, Pertamina melalui anak-anak perusahaannya telah menjadi anchor pasokan gas yang sangat dibutuhkan oleh industri.

 

Namun, saat ini penjualan ke konsumen di Sumatera Utara hanya dipasok oleh PT Perusahaan Gas Negara (PGN).  

 

Terdapat dua sumber pasokan gas dari Pertamina dan anak perusahaan, untuk PGN. Yaitu sekitar 4 mmscfd bersumber dari lapangan Pangkalan Susu yang berasal dari Pertamina EP dan sekitar 4 mmscfd lagi bersumber dari LNG Donggi Senoro.


Harga gas eks regasifikasi Arun yang dikelola oleh Perta Arun Gas (regasifikasi), Pertagas (transportasi), dan Pertagas Niaga (niaga), sampai di PGN  US$ 13,8 mmbtu.

 

 

"Dimana 85% dari komponen harga tersebut ditetapkan pemerintah, termasuk toll fee sebesar US$ 2,58 plus PPN, biaya regasifikasi US$ 1,58 plus PPN. Namun, harga gas pipa dari Pangkalan Susu yang juga ditetapkan pemerintah adalah sebesar US$ 8,31 per mmbtu," kata Wianda.

 

Dengan demikian, lanjut dia, untuk mengetahui harga beli PGN dari Pertamina harus mengkombinasikan antara harga dan volume dari dua sumber tersebut, sehingga tidak bisa mengacu pada satu harga yang lebih tinggi. 

 

Dengan komposisi tersebut, lanjut Wianda, seharusnya PGN dapat melakukan blending price berdasarkan rata-rata tertimbang harga dan volume pasokan. "Blended price harga beli gas PGN yang diperoleh dari Pertamina dan anak perusahaannya masih dibawah US$11 per mmbtu," ujar Wianda.

 

Menurut Wianda, informasi tersebut tidak disampaikan secara terbuka kepada masyarakat sehingga terjadi persepsi keliru seakan-akan gas hanya bersumber dari LNG.  

 

"Info itu menyudutkan Pertamina dan anak perusahaan yang justru telah melakukan upaya optimalisasi pasokan gas dengan harga kompetitif kepada industri melalui PGN," kata Wianda, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Kamis (12/11).


"Kami mengharapkan agar dalam penyampaian informasi terkait harga ini PGN dapat lebih bijak sehingga tidak memunculkan friksi yang tidak perlu yang tidak sejalan dengan upaya pemerintah untuk melakukan sinergi strategis antara PGN dan Pertagas. Keterbukaan juga dapat menghindari kerugian dari sisi konsumen karena tidak memperoleh harga yang lebih kompetitif," tegas Wianda.

 

Pada Senin lalu, Pelaksana tugas (plt) Gubernur Sumatera Utara, Tengku Erry Nuradi mengeluhkan tingginya harga gas untuk pelanggan industri di Sumut.  Kondisi ini menyebabkan industri di sana sulit bersaing. Menurut Erry, industry di Sumut bisa lebih besaing apabila harga gasnya di bawah 10 dolar AS per MMBTU. 

“Kalau harga gas bisa ditekan harganya dan over headcost bisa dikurangi, maka mudah-mudahan industri kami bisa bersaing,” ucap Erry seperti dikutip harian Kompas.


Reporter: Didi Kurniawan
Editor: Tian Arief

didi
12-11-2015 14:09