Main Menu

Kemenperin: Perlu Ada Kebijakan Khusus untuk Industri TPT

didi
06-06-2016 14:26

Industri tekstil (Dok.GATRA/Abdul Malik/HR02)

Jakarta, GATRAnews - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan, perlu ada kebijakan khusus bagi industri berbasis ekspor, termasuk industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT), guna memperkuat kemampuan industri TPT bersaing memperebutkan permintaan dari pasar global, yang dalam beberapa tahun terakhir melemah.

"Kami ingin membuat mereka memiliki level of playing field yang setara,” kata Harjanto, Direktur Jenderal Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka Kemenperin, di Jakarta, Senin (6/6).

Harjanto mengusulkan, dua insentif yang paling berpotensi mendongkrak nilai ekspor industri TPT yaitu pembebasan pajak pertambahan nilai (PPN) bagi bahan baku industri TPT berorientasi ekspor dan untuk program energy refund.

“Pembebasan PPN bertujuan membuat produsen garmen dan tekstil beralih dari bahan baku impor ke bahan baku produksi dalam negeri. Pasokan bahan baku dari dalam negeri saat ini masih dikenai PPN, sedangkan bahan baku yang diimpor dari luar negeri ke kawasan berikat bebas dari PPN,” tuturnya.

Pembebasan PPN, lanjut Harjanto, berdampak ganda kepada devisa yaitu menekan nilai impor bahan baku TPT sekaligus mendorong ekspor tidak langsung oleh industri pemintalan, serat sintetis, dan kain. Sedangkan program energy refund adalah dana yang diberikan pemerintah kepada produsen tekstil dan garmen untuk mengganti biaya listrik yang dikeluarkan.

“Besaran refund tergantung oleh seberapa besar nilai ekspor tiap perusahaan. Program ini bertujuan menekan ongkos listrik yang saat ini menyumbangan sekitar 15% dari biaya produksi industri TPT sekaligus memberikan insentif agar industri TPT bertujuan meningkatkan nilai ekspor,” ujar Harjanto.

Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) adalah industri manufaktur penyumbang devisa ekspor paling besar kedua bagi Indonesia setelah industri pengolahan CPO. Namun, industri TPT saat ini dalam dalam tren penurunan.

Nilai ekspor industri TPT turun 3,6% dari US$12,74 milyar menjadi US$12,28 milyar, sedangkan sumbangan industri TPT terhadap produk domestik bruto Indonesia merosot dari 1,32% menjadi 1,21% pada periode yang sama.

PDB industri TPT terkontraksi dalam lima kuartal terakhir. Sektor industri tekstil dan pakaian jadi menyusut 1,56% pada kuartal I/2016, setelah tertekan 4,79% pada 2015.


Reporter: Didi Kurniawan
Editor: Tian Arief

didi
06-06-2016 14:26