Main Menu

Setahun Proyek 35 Ribu MW, Industri Peralatan Listrik Belum Menggeliat

Hidayat Adhiningrat P.
29-09-2016 15:54

Ilustrasi (GATRAnews/Abdurachman/AR7)

Jakarta, GATRAnews - Pengusaha listrik yang tergabung dalam Asosiasi Produsen Listrik Seluruh Indonesia (APLSI) mendorong pemerintah melakukan industrilisasi peralatan listrik. Pasalnya, sudah setahun lebih program 35 ribu MW diluncurkan, geliat industri peralatan listrik belum terlihat.

 

Hal tersebut diutarakan Sekretaris Jenderal APLSI, Priamanaya Djan, di Jakarta hari ini (29/9). “Kita belum lihat adanya geliat industri peralatan listrik ini,” ujar Pria melalui keterangan tertulis yang diterima Gatranews. Dia mengatakan, semestinya pemerintah secepatnya mendorong industri ini mengingat permintaan pasar di dalam negeri sangat tinggi menyusul diluncurkannya program 35 ribu Megawatt lebih dari setahun lalu.

 

Pria mengatakan, dengan adanya mega proyek infrastruktur listrik itu, captive market peralatan listrik sudah tersedia. ”Ini kan konsekuensi dari banyaknya pembangkit yang akan dibangun, industri turunannya ya akan banyak permintaan peralatan listrik,” ujarnya.

 

Investasi di proyek 35 ribu MW ini, lanjut Pria, nilainya lebih dari Rp 1.000 triliun. Artinya, tersedia nilai pasar yang sangat besar. “Itu belum (termasuk) peralatan listrik yang terkait dengan infrastruktur jaringan distribusi listrik, lampu, trafo, dan sebagainya,” jelas Pria.

 

Wakil Bendahara Umum APLSI, Rizka Armadhana, berharap pemerintah serius mengembangkan industri peralatan listrik nasional. Rizka khawatir pasar nasional yang besar ini hanya diisi dan dimanfaatkan oleh produsen peralatan listrik dari luar negeri.

 

Rizka mengatakan, impor peralatan listrik terus meningkat dari tahun ke tahun. Bahkan, dibandingkan impor non migas lainnya, impor peralatan listrik merupakan salah satu yang tertinggi pada Juni 2016 bersama impor mesin yakni sebesar US$ 289,1 juta (18,06 persen).

 

Badan Pusat Statistik (BPS) juga menyatakan bahwa nilai impor Indonesia Juni 2016 mencapai 12,02 miliar Dolar Amerika Serikat (AS) atau naik 7,86 persen apabila dibandingkan Mei 2016. Namun sebaliknya turun sebesar 7,41 persen jika dibandingkan Juni 2015.

 

Saat ini terdapat sembilan kelompok industri yang sangat tergantung pada produsen luar antara lain industri mesin dan peralatan listrik, logam, otomotif, elektronika, kimia dasar, makanan-minuman dan pakan ternak, tekstil, barang kimia lain termasuk karet-plastik, serta pulp dan kertas.

 

Khusus untuk kelompok industri mesin dan peralatan listrik, tingginya impor kelompok ini disebabkan adanya keterbatasan teknologi, khususnya yang memerlukan presisi tinggi sehingga masih mengandalkan principal luar, serta keterbatasan bahan baku.


Reporter : Hidayat Adhiningrat P

Editor: Dani Hamdani 

Hidayat Adhiningrat P.
29-09-2016 15:54