Main Menu

Kadin Kembangkan Pariwisata Berbasis Budaya dan MICE

didi
23-11-2016 15:50

Wisata Bromo, salah satu destinasi wisata di Indonesia(GATRAnews/Adi Wijaya/re1)

Jakarta, GATRAnews - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai, industri pariwisata merupakan ujung tombak peningkatan kesejahteraan ekonomi kerakyatan Indonesia. Para pelaku usaha mendukung pemerintah dalam mencapai target di bidang pariwisata melalui pengembangan industri berbasis budaya dan MICE (Meetings, Incentives, Conferences, and Events).

Pemerintah telah menetapkan target industri pariwisata untuk 2019, yang mencakup kenaikan jumlah wisatawan manca negara dari 9,4 juta pengunjung pada 2014 menjadi 20 juta kunjungan wisata, kenaikan kontribusi bidang pariwisata terhadap PDB nasional dari 4% ke 8%, kenaikan jumlah tenaga kerja industri pariwisata dari 10.3 juta ke 13 juta, dan kenaikan ranking daya saing pariwisata Indonesia (versi World Economic Forum) dari posisi 70 dari total 140 negara ke posisi 30.

Pemerintah juga menetapkan 10 destinasi prioritas, yaitu Borobudur, Mandalika, Labuhan Bajo, Bromo-Tengger-Semeru, Kepulauan Seribu, Toba, Wakatobi, Tanjung Lesung, Morotai, dan Tanjung Kelayang.

“Pembangunan destinasi (supply) agar berdampak ekonomi yang signifikan perlu diimbangi dengan infrastruktur yang memadai, insentif keuangan, penciptaan permintaan (demand creation), promosi serta pengembangan sumber daya manusianya,” ungkap Kosmian Pudjiadi, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Pariwisata, dalam keterangan tertulis, di Jakarta, Rabu (23/11).

Menurut Kosmian, saat Rakornas Kadin, pihaknya mencatat, jumlah tenaga kerja di dalam industri pariwisata yang terlibat langsung dan tidak langsung termasuk industri pendukungnya mencapai sekitar 86,6 juta tenaga kerja.

“Kami bertekad untuk mendukung pencapaian target pemerintah di sektor pariwisata dengan memprioritaskan pengembangan ekonomi kreatif dan industri berbasis budaya. Oleh karena itu, pembinaan dari pihak swasta dan pemerintah kepada para UMKM di daerah pariwisata perlu terus dilakukan,” ungkap Putri K. Wardani, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Industri Berbasis Budaya.

Selain itu, salah satu sektor potensial yang harus dikembangkan untuk menunjang pariwisata adalah MICE (Meetings, Incentives, Conferences & Exhibitions) baik oleh Pemerintah maupun swasta yang telah menciptakan sekitar 260 juta kunjungan per tahun oleh pengunjung domestik saja.

“Masih banyak hal yang perlu kita perhatikan untuk menarik banyak kunjungan, bukan hanya dari domestik saja tetapi juga kunjungan dari luar. Oleh karena itu, diperlukan usaha lintas-bidang, lintas-sektoral dan terintegrasi dengan kegiatan promosi pariwisata yang ada,” kata Budyarto Linggowiyono, Kepala Badan MICE Kadin.

Dalam Rakornas Kadin Bidang Pariwisata, Industri Tradisional Berbasis Budaya serta MICE, ditandatangani pula Nota Kesepahaman (MoU) antara Kadin Indonesia yang diwakili oleh Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Industri Berbasis Budaya, Putri K. Wardani dengan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) yang diwakili oleh Hariyadi B. Sukamdani.

Kedua belah pihak sepakat untuk melakukan pemanfaatan dan penggunaan produk usaha berbasis budaya, yakni produk yang mempunyai nilai budaya Indonesia seperti jamu dan minuman tradisonal, kain tradisonal, kosmetik dan spa/holistik kesehatan, kerajinan tangan tradisional, makanan dan kuliner tradisional, pengobatan tradisional serta seni dan budaya tradisional (seni musik, seni tari, seni rupa dan seni teater).

"Kami ingin agar perhotelan dan restoran yang ada mulai memanfaatkan kekayaan budaya tradisional kita, melibatkan usaha-saha kecil menengah. Hotel bintang mungkin memang harus tetap memenuhi standarnya, tapi akan lebih bernilai pula bila kita menonjolkan apa yang Indonesia miliki. Para wisatawan yang datang ke Indonesia mereka ingin melihat budaya kita, sementara keindahan alam itu baru nomor ke sekiannya. Jadi, mereka ingin melihat budaya kita dengan keindahan alam Indonesia sebagai bonusnya," pungkas Putri.


Reporter: Didi Kurniawan
Editor: Tian Arief

didi
23-11-2016 15:50