Main Menu

Hampir 500 Delegasi Hadiri Konferensi Pelabuhan Dunia di Bali

Andhika Dinata
10-05-2017 15:35

Jumpa Pers Konferensi Pelabuhan Dunia 2017 di Bali (Dok GATRAnews/Pelindo)

Jakarta, GATRANews - Hampir lima ratus pemain industri pelabuhan dari 51 negara selama sepekan ini berkumpul di Bali melaksanakan hajat dua tahunan Konferensi Pelabuhan Dunia dalam "International Association of Ports and Harbors World Ports Conference 2017". Pelabuhan Indonesia (Persero) sebagai tuan rumah IAPH ke 30 ini menggelar konferensi itu di Bali Nusa Dua Convention Centre (BNDCC) pada 7-12.

 

Pertemuan ini merupakan ajang berbagi pikiran dan bertukar pengalaman pelaku sektor maritim dunia. Sebanyak 459 delegasi pelabuhan internasional dari 51 negara menghadiri acara ini di antaranya: Cina, Jerman, Belanda, Jepang, New Zealand, Iran, Amerika, Korea dan Norwegia.

 

"Sejalan dengan usaha Pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia, PT. Pelindo I, II, III dan IV merasa bangga dan terhormat untuk menjadi tuan rumah pertemuan ini," ujar Direktur Utama PT. Pelabuhan Indonesia II, Elvyn G. Masassya.

 

Elvyn menyebutkan pertemuan berskala internasional yang dihadiri para profesional, pebisnis, dan pakar kelautan, ini akan berkontribusi positif untuk meningkatkan entitas bisnis Pelabuhan di tanah air.

 

"Pertemuan ini penting untuk mendorong komitmen Nawacita Pemerintahan Jokowi-JK untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia yang menyatukan dan memperkuat konektivitas antar wilayah, transportasi laut yang handal dan efisien," ujar Elvyn.

 

Momentum pertemuan International Association of Ports and Harbors (IAPH) World Ports Conference kali ini dimanfaatkan untuk menguatkan sistem pelabuhan di tanah air, serta membuka jejaring baru dengan negara pakar maritim lainnya.

 

"Tujuan pertama tentu menguatkan aliansi dan networking, saling bertukar pengetahuan yang baru, menguatkan kerjasama di berbagai bidang," imbuhnya.

 

Menurutnya, salahsatu prioritas Pemerintah saat ini fokus pada pembangunan infrastruktur dan konektifitas maritim dengan membangun tol laut, deep seaport  serta menguatkan sistem rantai pasok (logistik) dan industri perkapalan. Fenomena dan tantangan ini mendorong Pelindo secara aktif mencari terobosan guna menemukan solusi praktis dari permasalahan yang dihadapi.

 

Berbagai masalah, kendala dan bottlenecking di dunia maritim dan perkapalan memerlukan sumbang saran dan kepakaran yang diadopsi dari pelbagai negara. Untuk itu, terang Elvyn, industri pelabuhan di tanah air harus segera berbenah menghadapi tantangan globalisasi tersebut.

 

"Fenomena aliansi shipping line, pelabuhan smart port dan digital port perlu kita cermati," katanya.

 

Pertemuan kali ini akan diikuti  penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan perusahaan pelabuhan Azerbaijan, Baku International Sea Trade Port CJSC (Port of Baku) dan perusahaan pelabuhan asal Cina, Port of Ningbo.

 

Kerjasama sister port ini dibentuk guna membangun kerjasama bisnis dan kemitraan, penerapan standar manajemen operasi pelabuhan, kerjasama di bidang IT dan infrastruktur.

 

Elvyn menjelaskan ada keuntungan kerjasama yang akan diperoleh PT. Pelindo dengan Port of Baku dan Port of Ningbo. "Kerjasama Pelindo II dengan Port of Baku ini akan bisa menghadirkan direct ekspor impor ke Azerbaijan, dengan cara ini volume (perdagangan) kita bisa meningkatkan".

 

Elvyn menyebutkan saat ini masih mengkaji teknis, mengoptimasi dan mensimulasi, ke depannya jalur distribusi logistik akan langsung ke Azerbaijan atau harus menempuh rute lainnya. "Kita masih akan mengkaji apakah lebih efisien melakukan langsung ke sana (Azerbaijan) atau singgah ke Cina dulu misalnya," pungkasnya.


Reporter: Andhika Dinata

Editor: Dani Hamdani

Andhika Dinata
10-05-2017 15:35