Main Menu

Barito Pacific Rampungkan Akuisisi Star Energy Awal Tahun Depan

didi
18-10-2017 21:11

Ilustrasi.

Jakarta, gatracom - PT Barito Pacific Tbk optimistis merampungkan akuisisi Star Energy Group pada kuartal I-2018. Barito menyiapkan dana sebesar US$700 juta-US$800 juta untuk membiayai transaksi akuisisi dan keperluan lainnya. Karena itu, perseroan mengkaji tiga opsi untuk pembiayaan, yaitu penerbitan obligasi, rights issue, atau kombinasi keduanya. Kepala Riset MNC Securities Edwin Sebayang menjelaskan, akuisisi Star Energy bakal berdampak besar terhadap Barito. Nilai aset akan meningkat drastis. 

Selain itu, akuisisi dapat menaikkan pendapatan dan laba bersih perseroan dalam jangka panjang, sehingga aliran kas menjadi lebih stabil. Menurut Edwin, skema pendanaan yang paling ideal melalui penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue. “Pada dasarnya, struktur permodalan baik dari rights issue maupun obligasi dinilai baik, namun perseroan perlu memperhitungkan imbal hasil yang mungkin diterima investor,” kata Edwin di Jakarta, Rabu (18/10).

Dia yakin, pemegang saham maupun investor tertarik dengan adanya penawaran tersebut. Sebab, dana hasil penambahan modal bisa memperkuat perusahaan secara fundamental. Terlebih, kebutuhan terhadap geothermal masih prospektif dalam jangka panjang. “Investor appetite bisa mencapai 66%-70%. Ditambah dengan kepemilikan Chandra Asri, harga saham Barito Pacific akan naik,” kata dia. 

Menurut perhitungannya, tanpa porsi perseroan pada Chandra Asri, saat ini saham BRPT masih di bawah harga wajar. Menurut dia, secara konservatif, harga wajar saham BRPT mencapai Rp 3.000. Maka dengan memperhitungkan nilai Star Energy, otomatis akan mendongkrak nilai perseroan. Dengan asumsi ini, harga pelaksanaan rights issue bisa mencapai Rp 2.000-2.500 per saham.

Sementara itu, hingga semester I-2017, Barito Pacific membukukan pendapatan bersih sebesar US$ 1,21 milyar atau tumbuh 35,33% dibandingkan periode sama tahun lalu. Laba bersih naik 35,67% menjadi US$ 152,68 juta.

Direktur Utama Barito Pacific Agus Salim Pangestu pernah mengatakan, peningkatan performa keuangan perusahaan ditopang oleh pertumbuhan kinerja yang konsisten dari sejumlah anak usaha, terutama PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. “Kinerja semester I-2017 yang positif dan telah diaudit ini menunjukkan bahwa Barito Pacific Group berada dalam performa terbaik, serta menjadi modal utama kami dalam merealisasikan berbagai rencana ekspansi ke depan,” kata Agus Salim, baru-baru ini.

Dia menegaskan, saat ini, terdapat berbagai rencana ekspansi bisnis yang tengah dilakukan perseroan, salah satunya akuisisi Star Energy Group. Untuk mengakuisisi perusahaan energi tersebut, Barito Pacific telah melakukan pembayaran uang muka sebesar US$ 235 juta. Perseroan menargetkan akuisisi saham Star Energy selesai pada kuartal I-2018.

Sebagai bagian dari proses akuisisi tersebut, pada 27 September 2017, Barito Pacific telah melakukan transaksi pembelian 4,998% saham PT Darajat Geothermal Indonesia (DGI) dari PT Austindo Nusantara Jaya Tbk senilai US$ 1,5 juta. Perseroan juga membeli 5% saham PT Star Energy Geothermal Suoh Sekincau dari Austindo senilai US$ 325 ribu.

Selain itu, anak usaha perseroan, yaitu PT Barito Wahana Lestari dan anak usaha PT Indonesia Power, yaitu PT Putra Indo Tenaga, telah mendirikan anak usaha baru, yakni PT Indo Raya Tenaga. Anak usaha patungan tersebut dibentuk untuk membangun proyek pembangkit listrik Jawa 9 dan Jawa 10. Dua pembangkit listrik berbahan bakar batubara itu diharapkan bisa menghasilkan listrik sebesar 2x1.000 megawatt (MW).

Langkah ekspansi di sektor energy ini merupakan wujud realisasi diversifikasi bisnis perseroan dalam menyeimbangkan pendapatannya selain sektor petrokimia. Dengan begitu, struktur bisnis Barito Pacific diharapkan semakin kuat dalam menopang perkembangan usaha perseroan ke depan. Baru-baru ini, Chandra Asri, anak usaha Barito Pacific, merampungkan penawaran umum terbatas (PUT) II untuk penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue senilai Rp 5,03 trilyun. 

Presiden Direktur Chandra Asri Erwin Ciputra mengatakan, rights issue tuntas pada 8 September 2017, dimana pembelian saham baru melebihi jumlah diterbitkan oleh perseroan. “Antusiasme investor sangat tinggi, terlihat dari oversubscription saham baru. Ini tidak terlepas dari dukungan para pemegang saham, investor, regulator dan pemangku kepentingan lainnya,” kata dia.

Setelah rights issue, jumlah saham perseroan yang beredar bertambah sebanyak 279.741.494 saham menjadi 3.566.704.052 saham, dengan komposisi saham publik (free float) sebesar 9,06%. Dengan demikian, perseroantelah memenuhi persyaratan minimum free float yang sebesar 7,5%, sesuai ketentuan V.1 Peraturan Bursa Efek Indonesia No. 1-A.

Dengan bertambahnya basis investor, likuiditas perdagangan saham akan meningkat dan lebih memperluas akses perseroan ke pasar modal domestik maupun luar negeri. Adapun perolehan dana hasil rights issue sebesar Rp 5,03 trilyun atau sekitar US$ 378 juta, setelah dikurangi biaya- biaya, akan digunakan perseroan untuk membiayai belanja modal guna meningkatkan kapasitas produksi dan/atau diversifikasi produk yang bertujuan untuk meningkatkan skala usaha.

Dalam aksi korporasi ini, pemegang saham utama perseroan, Barito Pacific, Marigold Resources Pte Ltd, dan Prajogo Pangestu tidak melaksanakan HMETD-nya. Sementara itu, SCG Chemicals Co Ltd melaksanakan seluruh haknya dalam rights issue tersebut.


Reporter: Didi Kurniawan
Editor: Nur Hidayat

didi
18-10-2017 21:11