Main Menu

Biodisel Indonesia di Jegal Uni Eropa dan Amerika, Ini Solusinya

Mukhlison Sri Widodo
22-01-2018 23:22

Ilustrasi (AFP/Adek Berry/FT02)

Jakarta, Gatra.com - Indonesia merupakan salah satu penghasil kelapa sawit terbesar di dunia. Turunan dari hasil alam kelapa sawit ini salah satunya adalah Bahan Bakar Nabati (BBN) biodisel. 

 

Ketua Pelaksana Asosiasi Produsen Biodisel Indonesia (APROBI) Paulus Tjakrawan mengungkapkan, tahun ini Indonesia sudah tidak lagi ekspor ke pasar Uni Eropa (UE) dan Amerika Serikat (AS). Padahal, kedua wilayah tersebut pada awalnya di design sebagai pasar ekspor BBN biodisel.  

"Ekspor kita sempat menyentuh 1,8 juta kilo liter (KL) ke Uni Eropa pada tahun 2013 dan 400 ribu KL ke AS. Uni Eropa dan AS merupakan market terbesar kita," katanya kepada wartawan dalam sesi acara Media Briefing di kantornya, Jakarta, Senin (22/01).

Hal ini bisa terjadi, lanjut Paulus, dikarenakan berbagai upaya yang di lakukan UE dan AS dalam menghambat masuknya biodisel Indonesia, di antaranya adalah tuduhan terkait subsidi dan Dumping.

Apalagi, menurutnya, tuduhan terkait Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDKSW) yang di subsidi oleh pemerintah sangat tidak berdasar dan tidak adil. Karena menurutnya, 100% dana BPDKSW merupakan patungan dari pihak swasta. 

"Tidak ada pemerintah memberikan subsidi ke BPDKSW, dana ini 100% dari swasta, tujuannya awalnya dana ini adalah untuk pengembangan dan penelitian minyak kelapa sawit. Ini perang dagang saja sebetulnya, " jelasnya. 

Oleh karena itu, saat ini pemerintah dan asosiasi sedang berupaya keras untuk menggagalkan "upaya penjegalan" BNN biodisel oleh AS.

Beberapa upaya yang dilakukan di antaranya pemerintah Indonesia mengadukannya ke WTO dan Perusahaan-perusahaan pengekspor biodisel melakukan upaya gugatan ke pengadilan perdagangan khusus di AS. 

Sedangkan di Eropa, kasus subsidi sudah di hentikan oleh UE pada tahun 2013, kemudian UE menuduh perusahaan Indonesia melakukan dumping.

"Lalu beberapa perusahaan Indonesia mengadukan kasus ini ke Eropa, perusahaan Indonesia menang, namun UE naik banding 26 Nov 2017. Namun, minggu lalu UE mencabut bandingnya, " ungkapnya. 

Di sisi lain, Paulus bilang, saat ini Asosiasi beserta dengan pemerintah sedang menjajaki penyerapan biodisel di dalam negeri.

Menurutnya, saat ini potensi penggunaan biodisel akan di alihkan ke Kereta Api, sektor Pertambangan seperti alat berat, Avtur Pesawat Terbang, dan kegiatan Alustista. 

"Bulan Februari nanti testing pada Kereta api akan dimulai. Untuk tambang sebagian sudah memakai, Adaro Energi sudah B10 (Penggunaan BBM 10% menggunakan campuran BBN). Untjk alusista dan Avtur Pesawat Terbang sebentar lagi, " imbuhnya. 

Selain upaya memperbesar market di dalam negeri, Paulus juga bilang, saat ini negara Tiongkok dan Jepang merupakan negara potensial tujuan ekspor BBN Indonesia.

Dia menambahkan, bila Tiongkok memakai B5 atau 5% BBN biodisel untuk campurannya BBM-nya saja di sana, potensinya mencapai sekitar 9 juta KL. 

"Saat ini masih sedang tahap negosisasi antara Pemerintah Indonesia dan Tiongkok. Perundingan progres kok, saat ini Pemerintah langsung di bawah kordinasi Menko Maritim. Tapi yang saya tahu, Tiongkok meminta harga pasti. Dia tidak mau menggunakan harga pasar, " ia memaparkan. 

Sebagaimana diketahui untuk saat ini dalam setahun Produsen BBN di Indonesia bisa menghasilkan 12 juta KL per tahunnya dan setiap tahunnya kecenderungannya terus meningkat. 


Reporter: MEF

Editor : Mukhlison

Mukhlison Sri Widodo
22-01-2018 23:22