Main Menu

Ternyata Pertumbuhan Manufaktur Indonesia Tertinggi di Asean

Dara Purnama
11-02-2018 10:22

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (Dok. Kemenperin/FT02)

Jakarta, Gatra.com - Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto mengatakan Indonesia sudah menjadi basis produksi manufaktur terbesar di ASEAN. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk mentransformasi ekonomi agar fokus terhadap pengembangan industri pengolahan non-migas.



“Jadi, kita telah menggeser dari commodity based ke manufactured based,” tegas  Airlangga di Jakarta, Minggu (11/2). Sehingga, Ia menyimpulkan manufaktur menjadi kunci penting guna memacu perekonomian nasional karena lebih produktif dan memberikan efek berantai yang luas.

Menurut Menperin, industri mampu meningkatkan nilai tambah bahan baku dalam negeri, menyerap banyak tenaga kerja, menghasilkan devisa dari ekspor, serta penyumbang terbesar dari pajak dan cukai. “Jangan sampai kita terus mengekspor sumber daya alam mentah kita tanpa pengolahan,” ujarnya.

Apabila dilihat dari sisi pertumbuhan manufacturing value added (MVA), Indonesia menempati posisi tertinggi di antara negara-negara di ASEAN. MVA Indonesia mampu mencapai 4,84 persen, sedangkan di ASEAN berkisar 4,5 persen. Di tingkat global, Indonesia saat ini berada di peringkat ke-9 dunia.

“Ekonomi Indonesia berbeda dengan negara ASEAN yang lain, disebabkan sekarang Indonesia sudah masuk dalam one trillion dollar club,” jelas Airlangga. Untuk itu, pemerintah menitikberatkan pada pendekatan rantai pasok industri nasional agar lebih berdaya saing di tingkat domestik, regional, dan global.

Tren ekonomi global kini bergeser ke Pasifik. Contohnya, di Jepang manufakturnya sekitar 0,2 persen karena basis produksinya di luar Jepang.

Selain Indonesia yang sedang mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dengan menggenjot sektor industri manufaktur, hal serupa juga dilakukan beberapa negara di kawasan Asia Tenggara, seperti Filipina dan Vietnam. Bahkan, beberapa negara ASEAN sudah membuat roadmap Industry 4.0. “Kita juga catching up di era ekonomi digital ini,” imbuhnya.

Kekuatan ekonomi Indonesia 80 persen berbasis pasar dalam negeri dan sisanya ekspor. Hal ini tidak sama dengan Singapura atau Vietnam yang hampir keseluruhannya berorientasi ekspor. Pasar domestik yang besar ini adalah aset penting bagi Indonesia.

Sebagai catatan, sebanyak 50 pabrik Indonesia telah beroperasi di Vietnam dan Thailand. Potensi ekspor nasional bisa lebih ditingkatkan terutama melalui pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN. Contohnya industri kemasan, makanan hingga semen yang keberadaannya harus dekat dengan konsumen, tidak efisien lagi untuk ekspor menggunakan transportasi karena tidak sebanding biayanya.

Solusinya adalah ekspansi dalam bentuk corporate action. Beberapa perusahaan telah membuka pasar baru seperti di Nigeria. “Kita sudah ada pabrik makanan di sana, dan rencana baru akan ekspansi lagi perusahaan berbasis pupuk,” ungkapnya.



Reporter : DPU
Editor : Flora L.Y. Barus


Dara Purnama
11-02-2018 10:22