Main Menu

Kanaba, Mesin Cuci Asli Bantul

Mukhlison Sri Widodo
07-04-2018 07:59

Ashari denagn produk mesin cucinya. (GATRA/Arif Koes/FT02)

Yogyakarta, Gatra.com - Warga Bantul memproduksi mesin cuci dengan 80% bahan lokal, telah mengantungi sertifikat SNI, dan punya target ekspor ke negara Asean.

 

Ashari, 50 tahun, warga Padangan, Sitimulyo, Bantul menciptakan mesin cuci itu dengan merek ‘Kanaba’, kependekan dari ‘Karya Anak Bantul’. 

Mesin cuci lokal ini dibuat karena prihatin, alat sepertinya harganya mahal dan sulit mendapat suku cadang.

Ashari bercerita ide pembuatan Kanaba bermula dari permintaan untuk membuat mesin pengering dengan harga terjangkau. 

Ketika itu, pada 2009, ia punya usaha perbaikan teknis, Hari Mukti Teknik.

“Saat itu saya ditantang seorang kawan yang mengeluhkan mahalnya mesin pengering yang saat itu seharga Rp 12 juta dan sulitnya mendapatkan suku cadang,” ujar dia, Jumat (06/4) di gudang produksi Kanaba, Bantul.

Menjawab tantangan itu, Ashari kemudian membuat model mesin pengering dengan mencontoh lemari yang memiliki tempat gantungan baju di dalamnya. 

Di bagian bawahnya, ia memberi blower atau pengering bertenaga listrik dan gas. Mesin pengering Ashari ini dijual hanya Rp 3,1 juta.

Ashari berhasil memproduksi 20 mesin pengering. Namun belakangan, para konsumen mengeluhkan pakaian yang dikeringkan kaku dan sulit disetrika. 

Sebagai solusi, Ashari memindahkan blower dan menambah alat pemutar untuk pakaian yang dikeringkan.

Teknologi ini ternyata memuaskan konsumen. 

“Karena suksesnya mesin pengering saya, muncul tantangan untuk membuat mesin cuci. Alasannya konsumen masih sama, pengin mendapatkan harga mesin cuci murah dan suku cadangnya mudah,” lanjut pria lulusan STM 2 Yogyakarta ini.

Dengan bekal pengalaman rekayasa teknik, Ashari mulai memproduksi mesin cuci modifikasi yang mampu menampung pakaian kotor 7-10 kilogram.

Setelah itu, Ashari mencoba peruntungan bekerja sama dengan berbagai instansi seperti rumah sakit, hotel, dan pabrik garmen. 

Awalnya Ashari sulit  meyakinkan mereka karena Kanaba dianggap tidak memiliki jaminan kualitas sebagai produk lokal.

Peluang itu datang saat salah satu rumah sakit di Purworejo memesan satu mesin cuci berkapasitas 16 kilogram. Satu bulan beroperasi mesin sempat rusak namun bisa diperbaiki.

“Usai diperbaiki mesin itu mampu beroperasi enam bulan tanpa henti. Akhirnya mereka memesan 30 mesin cuci berkapasitas 40 kilogram. Dari sanalah nama Kanaba mulai dikenal dan sekarang sudah merambah ratusan instansi dari Sabang sampai Merauke,” ujarnya. 

Ashari menjelaskan, salah satu keunggulan produknya adalah penggunaan 80 persen bahan lokal.

Alhasil, ketika terjadi kerusakan teknis, perbaikan dan penggantian komponen bisa segera dilakukan.

Tidak hanya itu, Kanaba juga punya garansi hingga 20 tahun  dan layanan purnajual yang cepat.

Kapasitas produk mesin laundry ini beragam. Mulai dari 30, 40. 50, hingga 60 kilogram. 

Demikian juga harganya dari Rp 20 juta sampai Rp 600 juta seperti umumnya mesin cuci khusus rumah sakit. 

Variasi produk mesin laundry ini terdiri atas Water Extractor, Washer Capsule, Extractor, Dryer, dan Roll Ironer Kanaba.

Melihat sambutan pasar, Ashari menyatakan pada 2020 pihaknya menargetkan aneka produk Kanaba bisa  diekspor ke negara-negara Asean. 

Apalagi Kanaba telah mendapatkan pengakuan Standard Nasional Indonesia (SNI).

“Saya memilih nama Kanaba karena ingin menunjukkan kepada masyarakat, bahwa jika diberi kesempatan, anak-anak lokal mampu menghasilkan produk yang menyaingi buatan luar negeri,” kata Ashari.


Reporter : Arif Koes
Editor : Mukhlison 

Mukhlison Sri Widodo
07-04-2018 07:59