Main Menu

Rizal Ramli: Garuda Bisa Kembali Untung Asal Sungguh-Sungguh Lakukan Perbaikan

Iwan Sutiawan
26-06-2018 01:58

Pengamat ekonomi Rizal Ramli. (GATRA/Rifki M. Irsyad/FT02)

Jakarta, Gatra.com - Mantan Menteri Koordinator Maritim dan Sumber Daya, Rizal Ramli, mengaku siap merumuskan strategi untuk memperbaiki maskapai plat merah Garuda Indonesia. Jika dijalankan secara sungguh-sungguh, maskapai ini bisa kembali meraup untung dalam waktu kurang dari dua tahun.

"Untuk itu, sebagai prasyarat awal, perlu dilakukan overhaul komisaris dan manajemen PT Garuda Indonesia Airways," katanya di Jakarta, Senin (25/6).

Rizal mengaku siap merumuskan itu karena ingin membantu Pemerintah Indonesia dan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk memberikan solusi atas permasalahan maskapai ini. Pasalnya, jika ini terus dibiarkan juga akan menurunkan reputasi Presiden Jokowi.

Menurut Rizal, terus meruginya maskapai ini karena mismanajemen dan ketidakmampuan serta ketidakprofesionalan Menteri BUMN, Rini Soemarno. Karena itu, dua pekan sebelum diangkat menjadi Menko Maritim dan Sumber Daya pada Kabinet Kerja, sempat menyampaikan kepada Jokowi bahwa Garuda sudah merugi sebesar US$ 399,3 juta pada 2014, dan akan terus merugi kalau tidak dilakukan perombakan dan perbaikan.

Rizal mengaku siap merumuskan srategi karena pernah mempunyai pengalaman menyelamatkan Garuda dari kebangkrutan pada saat menjadi Menko Perekonomian di era Pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tahun 2000-2001.

Saat itu, lanjut Rizal, Garuda tidak mampu membayar kredit sebesar US$ 1,8 milyar, pembelian pesawat yang digelembungkan (mark up) dan juga penggelembungan leasing yang lebih dari 50% pada saat rezim Orde Baru (Orba).

Konsorsium kreditor yang dipimpin bankir Jerman pun sempat mengancam akan menyita semua pesawat Garuda yang terbang ke luar Indonesia. Namun Rizal mengaku tak gentar atas gertakan tersebut dan mengancam balik akan mengajukan konsorsium kreditor tersebut ke pengadilan di Frankfurt, Jerman.

Rizal menyampaikan ancaman tersebut karena konsorsium kreditor itu menerima bunga odious interest dari pembiayaan yang digelembungkan. Jika terbukti, maka harga saham dari konsorsium bank tersebut akan turun, harus membayar denda, dan kemungkinan eksekutifnya terkena pidana.

Sejumlah ekskutif konsorsium bank tersebut tergopoh-gopoh ke Jakarta dan menemui Rizal untuk meminta damai. Rizal mengatakan, hanya bisa damai jika dilakukan restrukturisasi kredit US$ 1,8 milyar dengan token guarantee (garansi ecek-ecek), yaitu US$ 100 juta (5,5% dari total loan), dan indirect melalui bank komersial, bukan dari Kementerian Keuangan supaya negara terhindar dari risiko default.

"Konsorsium bank tersebut mula-mula ngotot minta full guarantee sejumlah US$ 1,8 milyar, tapi akhirnya menyerah terhadap tuntutan," kata Rizal melalui keterangan tertulis.

Menurutnya, pada bulan Juli 2015, Garuda mempunyai masalah besar, karena pembelian pesawat dilakukan secara ugal-ugalan dan mark up pembelian pesawat yang kemudian kasusnya disidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yakni untuk jenis pesawat bombardier dan Air Bus A380.

Rizal mengaku menyampaikan hal tersebut kepada Jokowi karena ingin kembali menyelamatkan Garuda, seperti pada tahun 2000-2001 saat menjadi Menko Perekonomian era Presiden Gus Dur. Saat itu, Presiden mengatakan bagaimana baiknya.

Rizal mengaku bahwa hal tersebut yang mendorongnya menyampaikan pidato saat dilantik menjadi Menko Maritim pada 12 Agustus 2015, agar Garuda melakukan evaluasi terhadap pembelian jenis pesawat jarak jauh karena pasti akan merugi.

Persoalan kerugian Garuda, lanjut Rizal, sebetulnya di setiap korporasi merugi soal biasa yang bisa terjadi karena sebab-sebab eskternal dan internal. Namun paling penting adalah perusahaan harus memiliki strategi untuk membalikkan situasi atau turn around strategy.

Rizal menilai ada beberapa yang menjadi masalah utama Garuda. Pertama, soal pengangkatan direksi tidak berlandaskan kompetensi, 8 orang jumlah direksi terlalu banyak dan merupakan mengakomodasi politik. Kedua, manajemen tidak berani mengambil keputusan untuk pembatalan dan rescheduling pembelian pesawat-pesawat yang tidak diperlukan.

"Ketiga, flight and rute manajemen payah. Yang dilakukan manajemen hanya pemotongan biaya via cross cutting, cross the board. Sangat berbahaya jika yang dipotong anggaran di sektor training," katanya.

Pasalnya, lanjut Rizal, bisnis penerbangan intinya adalah keselamatan (safety) dan juga seharusnya direktur operasi tidak dilebur menjadi direktur produksi. Keempat, permainan atau patgulipat di Garuda terjadi juga dalam hal pembelian logisitik.

Sistem pengadaan tidak kompetitif, sehingga harga yang dibeli konsumen kemahalan. "Lima, rute manajamennya payah. Seharusnya direktur operasi harus dipilih lebih canggih," katanya.

Rizal juga menilai strategi marketing Garuda amburadul. Seharusnya, Garuda merupakan premium airline, tetapi malah "dicampur" dengan strategi low cost carrier, seperti Citylink. Padahal, Garuda disegani karena reputasi, safety yang tinggi, dan memiliki kualitas pelayanan terbaik di dunia, dengan cara memberikan terlalu banyak discount, bazar discount, dan promo tiket, sehingga brand premium Garuda luntur.


Editor: Iwan Sutiawan

Iwan Sutiawan
26-06-2018 01:58