Main Menu

Kemelut di AISA Dua Komisaris Dipaksa Cabut Tanda Tangan di Laporan Tahunan

Mukhlison Sri Widodo
27-07-2018 10:21

Ilustrasi - Produk Tiga Pilar Sejahtera (TPS) Food. (GATRA/Rifki M Irsyad/FT02)

Jakarta, Gatra.com - Jelang digelarnya RUPS PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk, hari ini, Jumat, (27/07), ada kabar mengejutkan dari perusahaan pangan tersebut.

 

Dua komisaris perusahaan berkode emiten AISA tersebut dikabarkan diminta secara paksa untuk mencabut tanda tangan di laporan tahunan perusahaan tahun buku 2017 oleh para komisaris lainnya.

Dua komisaris tersebut tersebut adalah Anton Apriyantono (Komisaris Utama) dan Kang Hongkie Widjaja (Wakil Komisaris Utama). Kabarnya, keduanya sempat ditahan untuk ikut pertemuan di sebuah ruangan di Hotel Mandarin Jakarta selama 10 jam, pada Rabu (25/7).

”Mereka dipaksa mencabut tanda tangan dari laporan tahunan perusahaan di ruangan tersebut, namun menolak," kata sumber di manajemen AISA, kepada wartawan Kamis, (26/7) malam, di Jakarta.

Dalam laporan tahunan AISA tahun buku 2017 halaman 196 yang sudah diserahkan ke Bursa Efek Indonesia pada Kamis, 26 Juli 2018, Anton dan Kang Hongkie memang telah membubuhkan tanda tangan.

Namun sumber itu menyatakan ada beberapa pihak yang menyebarkan rumor  bahwa Anton dan Kang Hongkie telah mencabut tanda tangan tersebut.

"Semua ini, tujuannya supaya jajaran direksi bisa diganti pada RUPS. Dalam rapat tersebut mereka merencanakan menyisipkan agenda pemungutan suara untuk menentukan nasib jabatan para direksi," ujar sumber itu.

Sumber itu menjelaskan, jika pemungutan suara tidak berlangsung, maka dewan komisaris akan menggunakan haknya untuk memberhentikan para dewan direksi.

Setelah itu, masih menurut sang sumber, untuk sementara waktu bisnis AISA bakal menjadi tanggung jawab dewan komisaris hingga dewan direksi AISA ditentukan pada RUPSLB selanjutnya.

Sumber ini juga menyatakan target utama dari manuver di tubuh PT Tiga Pilar Sejahtera adalah menyingkirkan Direktur Utama Joko Mogoginta, yang juga sebagai pendiri Tiga Pilar Sejahtera Food.

“Sudah ada sejumlah usaha dilakukan untuk memuluskan ini, termasuk mempertanyakan dua transaksi yang sebenarnya dilakukan secara benar, transparan, dan tercatat," tambah si sumber.

Terkait insiden ini, Anton Apriyanto membenarkan adanya kejadian tersebut. "Sebenarnya bukan dipaksa tapi dalam keadaan tertekan, ketakutan dan informasi dari satu pihak," katanya. "Rapatnya aja sampai 10 jam" tambah Anton.

Anton tak mau menjelaskan pihak mana yang membuat dirinya ketakutan. "Yang jelas, saat itu belum bertemu direksi dan pengacara direksi untuk melakukan klarifikasi," paparnya singkat lalu meminta menghentikan wawancara. 


Editor : Mukhlison

Mukhlison Sri Widodo
27-07-2018 10:21