Main Menu

’’Merah Putih’’ Telkom Memakai Roket Reuse yang Proven untuk Ciptakan Efisiensi

G.A Guritno
06-08-2018 23:54

 Perakitan satelit merah putih (Dok. PT Telkom Indonesia/yus4)

Orlando, Gatra.com - Satelit Merah Putih milik Telkom yang rencananya akan diluncurkan dari Launch Complex-40, Cape Canaveral, Florida, Amerika Serikat, pada Selasa siang, pukul 12.18 sampai 14.18 WIB dibangun dengan platform roket reuse yang proven.

 

Kepala Proyek Satelit Telkom Group Tonda Priyanto mengatakan bahwa Satelit Merah Putih menjawab berbagai kebutuhan telekomunikasi masyarakat yang meningkat secara signifikan di tanah air dan kawasan regional. Dengan demikian Satelit Merah Putih memiliki sejumlah fungsi.

‘’Pertama soal replacement Telkom 1. Kedua adalah additional capacity karena akan bertambah 60 transponder. Sesuai motto-nya Telkom adalah going to international. Kita mau pergi ke Asia Selatan, di sana ada India, Pakistan, Sri Lanka dan Banglades,’’ kata Tonda.

Satu hal lagi yang tidak kalah penting dari proyek Satelit Merah Putih ini, menurut Tonda adalah adanya strategi efisiensi dalam proyek peluncuran satelit. ‘’Nilainya, dibanding tahun 2017 lalu dengan proyek Satelit 3S yang US$ 215 juta, telah terjadi efisiensi hingga 25 persen. Jadi nilainya kurang lebih sekitar US$ 165 juta,’’ katanya.

Tonda mengungkapkan pada masa sebelumnya ada beberapa roket seperti Ariane, Proton, Long March (Cina), Atlas, dan Delta. Roket pendorong itu meluncur ke angkasa sesuai misinya dan terus jatuh ke laut, selesai. ‘’SpaceX kalau membaca bukunya Elon Musk, itu dia menggunakan teknologi lama sebenarnya,’’ ungkap Tonda.

Namun, Musk me-reuse roket yang dipakai. Setelah dikirim ke angkasa roket stage 1 diturunkan dan dipakai lagi. ‘’Menurut informasi dari orang-orang di museum nilai roket stage 1 kurang lebih 70 persen dari total roket. Kalau roket dipakai menjadi 10 kali maka akan ada pengurangan biaya, ada share, itu yang membuat efisiensi,’’ kata Tonda.

Untuk peluncuran Merah Putih ke slot orbit pada 7 Agustus 2018 ini, SpaceX menggunakan teknologi terbaru dari roket yang dinamai Falcon 9 Block 5. Pada Mei 2018 lalu roket ini berhasil mengirimkan satelit milik Bangladesh, dan roket stage 1 berhasil pula kembali ke bumi.

Dengan demikian, Telkom membeli roket yang harganya memang sudah turun, karena menggunakan teknologi reuse, di mana roket tersebut telah mengalami improvement. ‘’Beruntungnya Telkom waktu beli, SpaceX ini sudah memenuhi kriteria Telkom, bahwa tingkat keberhasilannya sudah 98 persen lebih. Ini sudah masuk spesifikasi Telkom,’’ ujarnya.

Ide Musk menarik, karena memakai lagi roket yang sudah meluncur. Untuk kepentingan itu, maka pabrikasi roket juga berbeda seperti menggunakan ban berjalan. Untuk itu Musk sampai merekrut orang dari pabrik BMW untuk merancang pabrikasinya.

Menurut Tonda, roket seperti roda berjalan yang dalam pemasangan komponen prosesnya secara berputar. ‘’Itu kehebatannya Musk, efisiensi dalam arti itself Telkom project iya dan itu teknologi proven yang sudah ada di pasar,’’ pungkas Tonda.

Proses peluncuran Satelit Merah Putih sampai final masih memakan waktu beberapa hari, hingga pekan ketiga September sampai ready. Untuk itu, Arif Prabowo VP Corporate Communication Telkom Indonesia mengatakan Telkom memohon doa restu dari seluruh masyarakat Indonesia agar proses peluncuran Satelit Merah Putih berhasil dengan sukses sesuai rencana.

‘’Sepuluh atau sebelas hari sejak peluncuran, tepatnya pada 17 Agustus 2018 satelit akan tiba di slot orbit 108 derajat BT. Ini akan menjadi kado istimewa untuk HUT Kemerdekaan RI ke-73,’’ katanya.

Setelah diluncurkan, pengendalian satelit menuju ke slot orbit dilakukan sepenuhnya oleh Space Systems Loral (SSL), pabrikan pembuat Merah Putih. ‘’Begitu sampai di slot orbit 108 derajat BT, SSL masih sebagai operator utama dan Telkom sebagai backup dengan menggunakan perangkat Telkom,’’ kata Arif yang biasa dipanggil Bobby itu.

Proses berikutnya adalah kurang lebih 30 hari dilakukan pengetesan transponder satelit di orbit. Baru pada minggu ketiga September akan ada serah terima operasional ke Telkom. ‘’Sejak itu, Telkom menjadi operator utama dan SSL sebagai backup-nya,’’ kata Bobby.

Editor: G.A. Guritno

 

G.A Guritno
06-08-2018 23:54