Main Menu

Investor Italia Bidik Proyek Jalan Hingga Pelabuhan di Indonesia

Januar
11-10-2015 08:31

Kepala BKPM Franky Sibarani (GATRA/Eva Agriana)

Jakarta, GATRAnews - Italia menjadi salah satu negara yang berminat untuk menanamkan modalnya di sektor infrastruktur dalam skema kerjasama pemerintah dan swasta (Public Private Partnership – PPP). Hal ini disampaikan oleh Dubes Italia untuk Indonesia Federico Failia saat melakukan kunjungan ke BKPM akhir pekan ini.

 

 

Proyek-proyek yang diminati negara pisa ini berhubungan dengan infrastruktur seperti jalanan, listrik, pelabuhan dan pengolahan air. Kepala BKPM Franky Sibarani menyampaikan untuk tahun 2015 ada 15 proyek infrastruktur PPP yang siap ditawarkan dan membutuhkan keterlibatan investor dalam konstruksinya.

 

Proyek-proyek ini yang akan ditawarkan kepada 20-30 perusahaan Italia yang akan mengunjungi Indonesia. Kunjungan ini menunjukkan keseriusan mereka untuk menindaklanjuti pertemuan tersebut. Dan mereka saat ini telah secara spesifik minta detil informasi mengenai proyek PPP,” ujar Franky.

 

Dubes Italia untuk Indonesia Federico Filia menambahkan minat investasi dalam proyek-proyek PPP terutama terhadap proyek-proyek PPP yang dapat dikerjasamakan dengan BUMN di Indonesia. “Dalam rombongan perusahaan tersebut, juaga akan ada 3 perusahaan perbankan yang akan mendukung dari sisi pembiayaan,” katanya.

 

Dari data yang dirilis oleh BKPM, realisasi investasi Italia untuk semester I 2015 berada diperingkat 29 dengan nilai investasi mencapai US$ 6,1 juta dengan jumlah proyek mencapai 41 proyek. Sedangkan untuk minat, dari data semester I 2015, tercatat persetujuan investasi untuk 30 proyek dengan nilai investasi mencapai US$ 60,3 juta dengan rencana penyerapan tenaga kerja mencapai 874 orang.

 

Sementara itu, saat kegiatan pemasaran investasi di Milan, September yang lalu, BKPM mengidentifikasi minat investasi dari Italia senilai US$ 789,5 Juta. Minat tersebut tersebut berasal dari berbagai sektor di antaranya telekomunikasi US$ 4,5 juta, kelistrikan US$ 380 juta, industri turbin untuk pembangkit listrik sebesar US$ 25 Juta, industri otobus US$ 90 Juta, sektor perkapalan US$ 10 Juta, dan konstruksi senilai US$ 280 Juta. 


 

Reporter: Januar Rizki

Januar
11-10-2015 08:31