Main Menu

Target Penerimaan Bea Cukai 2016 Turun 10 Triliun dari Tahun Ini

Januar
13-10-2015 16:38

Target penerimaan pajak dipatok lebih kecil (GATRAnews/dok)

Jakarta, GATRAnews - Target penerimaan bea dan cukai dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2016 dipatok sebesar Rp 186,52 triliun. Jumlah tersebut lebih kecil dibandingkan APBN 2015 yang mencapai Rp 194,99 triliun.

 

Direktur Jenderal Bea dan Cukai Heru Pambudi mengatakan target tersebut lebih realistis mengingat kondisi perekonomian saat ini. "Target penerimaan bea dan cukai dalam RAPBN 2016 tersebut memang menunjukkan penurunan sekitar Rp 10 triliun dibanding dalam APBN Perubahan 2015 yang sebesar Rp 194,99 triliun," kata Heru dalam keterangan persnya, Selasa (13/10).

 

Dari target yang telah ditetapkan tersebut, penerimaan cukai ditargetkan sebesar Rp 146,43 triliun, yang terdiri atas cukai hasil tembakau Rp 139,81 triliun, cukai methil alkohol Rp 17 miliar, dan cukai minuman mengandung ethil alkohol (MMEA‎) Rp 6,45 triliun.

 

Heru menambahkan beberapa kebijakan di bidang cukai yang akan dilaksanakan antara lain kenaikan tarif cukai hasil tembakau secara proporsional. Lalu, menaikkan tarif cukai MMEA dan penyempurnaan ketentuan terkait pemasukan atau pengeluaran barang kena cukai dari dan menuju kawasan bebas.

 

Sementara, penerimaan bea masuk ditargetkan sebesar Rp 37,20 triliun. Beberapa program yang akan dijalankan untuk penerimaan bea masuk pada tahun 2016 adalah peningkatan pelayanan secara otomasi, serta menambah komoditas yang mendapat bea masuk ditanggung pemerintah (BMDTP) untuk mendorong investasi dan mengintensifkan program kepatuhan dan partnership

 

Untuk bea keluar, program yang direncanakan adalah pemetaan eksportir berdasarkan produk yang diekspor, meningkatkan pemeriksaan terhadap barang ekspor yang terkena bea keluar.

 

Sementara itu, terkait realisasi penerimaan bea dan cukai tahun ini, ia memperkirakan hanya akan mencapai Rp 185,3 trilliun atau sekitar 95% dari target dalam APBN-P 2015 yang sebesar Rp 194,5 triliun. Hal tersebut disebabkan masih melambatnya perekonomian dan rendahnya harga komoditas saat ini.


Reporter: Januar Rizki

editor: Dani Hamdani

Januar
13-10-2015 16:38