Main Menu

BI Nilai Gejolak Inflasi di Daerah Masih Rawan

Januar
09-02-2016 16:40

Juda Agung(GATRA/Rifki M Irsyad)

Jakarta, GATRAnews - Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi Moneter Bank Indonesia, Juda Agung mengatakan potensi inflasi di daerah atau luar perkotaan masih tinggi. Tidak terkendalinya harga-harga barang khususnya pangan utama seperti beras dan daging menyebabkan inflasi tinggi terjadi di daerah. Juda menjelaskan salah satu wilayah yang kerap mencatatkan inflasi tinggi adalah Indonesia Timur.

Buruknya sistem logistik barang menyebabkan kesenjangan harga di kawasan ini jauh lebih tinggi dibanding wilayah lain. “Indonesia Timur inflasinya tinggi. Disparitas perdagangan di wilayah ini tinggi. Hal ini karena faktor (sistem) logistiknya,” kata Juda saat dijumpai dalam kegiatan Bincang-bincang Media di ruang wartawan Gedung BI, Selasa (9/2).

Juda melanjutkan permasalahan inflasi ini harus diselesaikan bersama-sama antara BI sebagai pengawas moneter dengan pemerintah sebagai penentu kebijakan riil. “Instrumen BI terbatas. Pemerintah pusat dan daerah punya peran langsung. Kami dalam TPID (Tim Pengendali Inflasi Daerah) hanya memediasi dialog melalui kantor-kantor BI di 43 daerah,” kata Juda.

Juda menekankan faktor inflasi daerah yang paling dominan adalah produk-produk makanan. Ia mencontohkan BI dan pemerintah tidak mampu memperkirakan terjadinya lonjakan inflasi pada akhir tahun lalu. Sehingga, inflasi pada Desember di atas perkiraan sebesar 0,93%. “Tidak ada yang mengira inflasi Desember setinggi itu. Ini karena volatile food,” kata Juda.

Dalam waktu dekat 13-14 Februari nanti BI akan menggelar Rapat Koordinasi dengan pemerintah pusat dan daerah di Kupang NTT untuk membahas penanganan inflasi di daerah. Dalam rapat tersebut akan dihadiri Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong, Menteri Pertanian Amran Sulaiman dan beberapa pejabat pejabat pemerintah daerah.


Reporter: Januar Rizki

Editor: Nur Hidayat

Januar
09-02-2016 16:40