Main Menu

Bank Dunia Prihatin Anjloknya Harga Komoditas Meningkatkan Angka Kemiskinan

Januar
08-06-2016 11:20

Bank Dunia (AFP/Karen Bleier/HR02)

Jakarta, GATRAnews - Bank Dunia atau World Bank menjelaskan penurunan harga komoditas dalam beberapa tahun terakhir berdampak terhadap peningkatan angka kemiskinan. Negara-negara berkembang sebagai pengekspor komoditas mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi sehingga tahun ini pertumbuhan ekonomi pada negara-negara tersebut hanya mencapai 0,4%, jauh lebih rendah dari proyeksi Januari lalu sebesar 1,2%. 

“Pertumbuhan yang lambat ini kembali menegaskan betapa pentingnya bagi negara untuk menerapkan kebijakan yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan memperbaiki kesejahteraan mereka yang hidup dalam kemiskinan ekstrim,” kata Presiden Kelompok Bank Dunia Jim Yong Kim, Rabu (8/6) waktu Indonesia. “Pertumbuhan ekonomi adalah motor utama pengurangan kemiskinan. Karena itu kami prihatin ketika pertumbuhan di negara-negara pengekspor komoditas berkurang akibat tekanan terhadap harga komoditas,” Kim menambahkan. 

Di antara negara-negara berkembang yang besar, pertumbuhan Tiongkok diperkirakan berkisar antara 6,7% pada 2016 setelah tahun lalu berada di angka 6,9%. Ekspansi ekonomi India yang besar diperkirakan akan stabil di angka 7,6%. Brazil dan Rusia diproyeksikan berada pada resesi yang lebih dalam dibanding prakiraan bulan Januari. Afrika Selatan diperkirakan tumbuh sekitar 0,6% pada 2016, 0,8% lebih lambat dibanding proyeksi pada bulan Januari. 

Bank Dunia juga memangkas proyeksi pertumbuhan global menjadi 2,4% dari prakiraan pada bulan Januari, yakni 2,9%. Langkah ini diambil akibat melambatnya pertumbuhan di negara-negara maju, harga komoditas yang tetap rendah, lemahnya perdagangan global, dan arus modal yang berkurang. 

Menurut laporan Global Economic Prospects, peningkatan signifikan dalam sektor kredit swasta – didorong oleh suku bunga rendah dan meningkatnya kebutuhan pembiayaan, yang belakangan ini semakin tinggi – ikut mempertajam potensi risiko bagi beberapa negara berkembang. 

“Seiring dengan upaya negara-negara untuk mengatasi tantangan, negara-negara di Asia Timur dan Tenggara tumbuh solid, seperti halnya negara-negara berkembang pengimpor komoditas di seluruh dunia,” kata Kaushik Basu, Ekonom Utama dan Wakil Presiden Senior Bank Dunia. “Namun, satu perkembangan yang perlu diantisipasi adalah pesatnya tingkat hutang swasta di beberapa negara berkembang. Saat tren pinjaman melonjak, tidak mengherankan jika tingkat pinjaman macet, sebagai bagian naiknya pinjaman sebanyak empat kali lipat.” 

Dalam situasi pertumbuhan yang melamban ini, ekonomi global menghadapi risiko-risiko lebih besar, diantaranya pelambatan lebih lanjut pada negara-negara berkembang, perubahan besar pada sentimen pasar finansial, stagnasi pada negara-negara maju, periode rendahnya harga komoditas yang lebih lama dari perkiraan, risiko geopolitis berbagai negara, dan kekhawatiran terhadap efektivitas kebijakan moneter dalam mendorong pertumbuhan. Laporan ini memperkenalkan cara untuk mengkaji risiko-risiko terhadap proyeksi global dan menemukan bahwa situasinya lebih condong ke penurunan dibanding proyeksi bulan Januari lalu. 

“Prospek pertumbuhan yang lambat di negara-negara berkembang akan memperlambat, atau bahkan memutar balik kemajuan yang telah dicapai dalam mengejar tingkat pendapatan agar setara dengan negara-negara maju,” kata Ayhan Kose, Direktur Group Economic Development Prospects. “Namun, selama tiga tahun terakhir, beberapa negara berkembang pengimpor komoditas mampu mempertahankan stabilitas dan pertumbuhan,” kata Ayhan. 


Reporter: Januar Rizki

Editor: Nur Hidayat

Januar
08-06-2016 11:20