Main Menu

Beberapa Kekhawatiran Pengusaha atas Kemenangan Trump

Andya Dhyaksa
09-11-2016 18:21

Donald Trump (AFP/Jay La Prete/HR02)

 

 

 

Pertama kekhawatiran seputar isu keamanan. Memang, selama kampanye, Trump sering kali melontarkan pernyataan yang mengkhawatirkan. Beberapa di antaranya adalah, akan ditempatkannya pasukan Amerika di laut Cina Selatan untuk menekan keberadaan Cina, hingga menganjurkan Jepang maupun Korea Selatan mengembangkan senjata nuklir sebagai bentuk perlindungan diri dari Korea Utara.

 

“Dengan naiknya dia itu, soal keamanan, apakah akan lebih baik atau malah buruk. Apakah sentimen terhadap Amerika itu meningkat, karena selama kampanye kan kontraversi terus,” ujarnya. Ia juga mengaku belum dapat kepastian mengenai kebijakan luar negeri Trump. “Di kampanye kemarin itu, dia itu lebih proteksi terhadap ekonomi Amerika. Ini artinya apa? Kita belum tahu.”

 

Kekhawatiran kedua soal apakah ekonomi Amerika bisa lebih baik atau tidak dengan terpilihnya Trump sebagai Presiden AS. “Dia kontraversial, dia over protektif, bikin kebijakan yang aneh-aneh, orangnya nggak bisa ditebak,” katanya.

 

Latar belakang dia sebagai pengusaha, menurut Haryadi, tidak bisa menjadi jaminan ekonomi Amerika bakal sukses. Ada banyak hal, menurut Haryadi, yang diperlukan seseorang untuk menjadi pemimpin, khususnya negara besar macam Amerika.

 

“Banyak hal, soal kematangan dia berpikir dia bagaimana. Boleh saja dia jadi pengusaha real estate, tapi kematangan dia memimpin negara, belum pernah teruji kan. Dia mungkin bagus di perusahaannya sendiri, tapi kan ini negara. Negara yang maju lagi,” katanya.

 

Meski begitu, dalam pengamatannya, Trump biasa-biasa saja. Tidak ada yang luar biasa dari dirinya. “Apa sih kelebihan dia ini, sebagai pengusaha, mendingan Bill Gates deh, kalau sama-sama pengusaha ya. Dia ada kontribusinya untuk kemanusiaan,” ujarnya.

 

Haryadi belum dapat memprediksi kemungkinan terparah bila Trump menjadi Presiden.

 

Namun kemungkinan terburuk bila dipimpin Trump yaitu tidak akan sampai AS ditinggalkan para pengusaha. “Kalau ditinggalkan tidak, karena AS masih masuk negara penting. Cuma memburuk volume-nya dan itu pasti dampaknya ke seluruh dunia,” ujarnya.

 

Dampak yang paling kelihatan, kata dia, pertumbuhan ekonomi akan turun. “Bila AS mundur (ekonomi—red), semua (dunia—red) mundur juga,” ujarnya. Buat Indonesia, keterpilihan Trump, menurutnya, tidak ada masalah.


Reporter:  Andi Anggana

Editor: Andya Dhyaksa

 

Andya Dhyaksa
09-11-2016 18:21