Main Menu

Pertumbuhan Tertahan: Wapres Akui Infrastruktur Berdampak Jangka Panjang

Anthony Djafar
27-12-2017 20:08

Wakil PresidenJusuf Kalla (GATRA/Anthony Djafar/yus4)

Jakarta, Gatra.com - Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK) mengatakan bahwa sepanjang dua tahun ke depan, pemerintah masih memprioritaskan pembangunan di bidang infrastruktur karena berimplikasi pada pembangunan jangka panjang. Sehingga tidak heran pertumbuhan ekonomi tahun ini belum signifikan sesuai yang diharapkan. 

 

“Memang tadi pagi kita juga membahas pertumbuhan ekonomi ini. Antara lain penyebabnya bahwa adalah karena fokus 1-2 tahun ini, banyak (pembangunan) ke infrastruktur. Nah infrastruktur ini jangka panjang efeknya,” katanya menjawab pertanyaan awak media soal masih pesimisnya BI dan Kemenkeu terhadap pertumbuhan nasional yang diprediksi mencapai 5,2%.

 

Meski begitu, kata Wapres, sektor infrastruktur diharapkan memiliki multiplier effect setelah pembangunan, sekalipun tidak besar. Investasi swasta juga  diharapkan dapat lebih besar. 

“Jadi sebenarnya itu bisa dilihat dari kredit perbankan, masih single digit (pertumbuhannya). Jadi itu antara lain, mengapa pertumbuhan kita tidak bisa mencapai seperti apa yang kita harapkan,” katanya, di istana wapres, rabu (27/12).

Namun Wapres tetap masih optimis pertumbuhan ekonomi akan meningkat pada tahun-tahun mendatang mengingat pola konsumsi masyarakat yang masih meningkat apalagi jika memperhatikan pola belanja masyarakat usai perayaan ibadah seperti lebaran ataupun natal. 

“Kita lihat saja beberapa waktu ke depan ini. Kita harapkan itu (pertumbuhan kredit) bisa di atas 10%. Disamping itu juga, ada perubahan kebiasaan di masyarakat dari konsumsi ke leisure. Kita lihat habis lebaran dan natal itu akan penuh orang dimana-mana,” katanya. 

Wapres juga menyinggung mengenai perkembangan industri e-commerce, khususnya tentang fintech. “E-commerce itu dari sisi pertumbuhannya tentu tidak bisa ditahan, tapi yang kita inginkan bahwa yang dibeli itu, jangan hanya sebagian besarnya produk dari China, tapi juga produk buatan dalam negeri,” katanya. 

Artinya, kata Wapres sebagian besar belanja melalui e-Commerce selama ini produknya dari China, kendati itu juga dialami oleh beberapa negara lainnya. Tidak hanya Indonesia. “Jadi e-commerce itu. Anda belanja dari internet sebagian besar yang dijual itu adalah produk asal China,” katanya.

Soal perlu tidaknya pembatasan impor produk dari China, lanjut Wapres akan diatur regulasi bagaimana tingkat kesamaan dalam membayar pajak. “Ya harus sama, produk dalam negeri dan luar negeri kena yang sama,” katanya.


Editor: Anthony Djafar

Anthony Djafar
27-12-2017 20:08