Main Menu

IRESS: Holding Migas Langgar 3 Undang-Undang

Ervan
06-01-2018 09:45

Direktur IRESS, Marwan Batubara. (GATRA/Adi Wijaya/FT02)

Jakarta, Gatra.com- Indonesia Resources Studies (IRESS) menegaskan keterlibatannya dalam menggugat Peraturan Pemerintah (PP) No 47 Tahun 2017 mengenai pembentukan hoding pertambangan dengan menjadikan PT Aneka Tambang (Antam), PT Bukit Asam (PT BA), PT Timah sebagai anak usaha PT Inalum (Persero).

 

Direktur IRESS, Marwan Batubara mengatakan kebijakan holding itu selain mengabaikan fungsi pengawasan DPR, juga melanggar UU keuangan negara, UU BUMN, dan UU Minerba. 

"Holding ini tidak melibatkan DPR padahal ini keputusan penting dan strategis. Tiga perusahaan yang tadinya BUMN dan sekarang dijadikan anak perusahaan PT Inalum, maka dia bukan lagi BUMN dan terhindar dari pengawasan KPK dan BPK," kata Marwan, Sabtu (6/1).

Karena itu kata Marwan, upaya Menteri BUMN, Rini Soemarno menghindar dari pengawasan DPR serta membuat keuangan tiga perusahaan luput dari BPK dan KPK, disinyalir bertujuan busuk dan ajang pemburuan rente. 

"Kalau perusahaan statusnya BUMN, untungnya masuk pada penerimaan negara, namun sekarang dia bukan lagi BUMN, lalu negara dapat apa? Bisa jadi dengan menghindari pengawasan sehingga jadi ajang pemburuan rente," katanya. 

Marwan mengimbau, kebijakan holding tambang telah merugikan pihak publik. BUMN yang selama ini memiliki  tugas pengabdian sosial atau Public Service Obligation (PSO), namu dengan holding dan tidak lagi menyandang status BUMN, maka PT Antam, PT BA, dan PT Timah tidak lagi memiliki kewajiban melakukan PSO.

Selain daripada Holding Tambang, pemerintah dalam waktu dekat juga akan merealisasikan Holding Migas dengan mencaplokkan PT PGN menjadi anak perusahaan PT Pertamina. Namun berkaca pada Holding Tambang yang penuh masalah, bukan tidak mungkin Holding Migas juga akan mendapat gugatan publik. 

"Pada dasarnya saya mendukung upaya penguatan BUMN dengan memperbesar nilai aset, tetapi bukan dengan cara seperti saat ini yang melemahkan sistem pengawasan. Makanya saya turut menggugat, karena kalau dibiarkan, mereka makin merajalela dan nggak karuan," katanya.


Reporter: Ervan Bayu

Editor: Anthony Djafar 

 

Ervan
06-01-2018 09:45