Main Menu

Pertanian Butuh Regenerasi, Ini Solusi Ketum HKTI Moeldoko

Wanto
10-01-2018 16:52

Seorang petani melakukan pemupukan tanaman padi. (ANTARA/Syaiful Arif/FT02)

Jakarta, Gatra.com - Kondisi pertanian Indonesia terancam minimnya regenerasi. Para petani di Indonesia banyak yang berusia tua dan sulit mendapatkan generasi penerus, khususnya dari kalangan pemuda. 


Kondisi ini menjadi salah satu perhatian serius Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jenderal (Purn) TNI Moeldoko. Menurutnya, hal itu terjadi karena minat generasi muda berkecimpung di dunia pertanian semakin minim. Sebab itu, dibutuhkan solusi konkret agar generasi muda meminati sektor pertanian. 

"Ini karena kondisi pertanian kita kurang menjanjikan. Kalau kita coba dari kondisi yang kurang menjanjikan menjadi menjanjikan, maka saya pastikan banyak yang akan bergabung dengan kita (petani)," kata Moeldoko di Jakarta, Rabu (10/1).

Mantan Panglima TNI ini menjelaskan, generasi muda lebih tertarik bekerja di luar pertanian. Padahal, generasi muda memiliki peranan penting untuk memajukan sektor pertanian Tanah Air.

Moeldoko berharap para sarjana maupun lulusan sekolah kejuruan bisa melakukan pendampingan untuk mengembangkan pertanian. "Pendamping kita beri tanggung jawab untuk mendampingi petani. Kita carikan konsep penggajian untuk mereka," kata pemimpin M Foundation itu.

Bersama HKTI, Moeldoko terus aktif mencari mahasiswa yang mau berkecimpung di dunia pertanian. Pihaknya juga menjalin kerja sama dengan pesantren-pesantren yang ada di Indonesia.

"Kami ingin para sarjana dan pesantren turut mengimplementasikan program-program yang dimiliki HKTI. Lulusan dari perguruan tinggi juga bisa mendampingi pesantren memberikan knowledge pertanian," ujarnya.

Moeldoko menjelaskan, teman-teman di pesantren ini juga akan diajarkan ilmu pertanian. Setelah keluar, para santri diharapkan akan menjadi center of gravity dari lingkungannya. "Bisa dibayangkan kalau dia memiliki salah satu ilmu pertanian. Di samping pandai ilmu agama, dalam konteks hablumminannas, memiliki ilmu pengetahuan transfer knowledge dari kita tentang pertanian, maka dia akan bisa memberikan pencerahan pada lingkungan," ujarnya.

Nantinya, para santri tersebut bisa menggarap lahan pertanian di sekitar pesantren. Lahan tersebut bisa milik pemerintah, lembaga, perusahaan atau pribadi yang bisa dijalin kerja sama. 

Tidak hanya itu, Moledoko juga akan mengktifkan kembali program pesta petani muda (Pestani). Program itu akan melibatkan ribuan petani muda dengan usia maksimal 30 tahun.

Sebelumnya, Pestani pernah diselenggarakan di Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar), menyelaraskan program yang dimiliki Pemda, Kodam XII/Tanjungpura, dan Universitas Tanjungpura. Semua bersama-sama menyukseskan program ketahanan pangan nasional yang diarahkan meningkatkan dan mendukung pembangunan pertanian. 

"Pestani ini diharapkan juga dapat menjadi program yang rutin dan berkesinambungan. Ini upaya bersama menjalin komunikasi dan mencapai sasaran secara bersama-sama terhadap program yang telah dicanangkan oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah," tuturnya. 

Pestani ini bertujuan untuk mendekonstruksi stigma pertanian sebagai pekerjaan yang identik dengan kemiskinan, mengembangkan petani muda yang sadar, paham, dan dapat menerapkan pertanian modern. 

Seperti diberitakan sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman prihatin para petani di Tanah Air banyak yang berusia tua dan sulit mendapatkan generasi penerus. Ia menyayangkan kondisi itu, karena peranan petani sangat penting dalam menjaga kedaulatan pangan di Indonesia.

"Kita ketahui memang jarang sekali pemuda yang menginginkan menjadi petani. Pertama karena dianggap miskin, kotor dan sangat melelahkan. Permasalahan inilah yang harus kita carikan solusinya," kata Amran.


Reporter: Wanto
Editor: Iwan Sutiawan

Wanto
10-01-2018 16:52