Main Menu

Pengamat : Pertumbuhan Ekonomi Matang di 2018

Fitri Kumalasari
11-01-2018 09:53

(Dok. Kemenkominfo/FT02)

Jakarta, Gatra.com - Perekonomian global tahun ini masih diprediksi membaik. Membaiknya perdagangan global, harga komoditas, serta pelonggaran fiskal Amerika Serikat menjadi pendukung perbaikan ekonomi di tahun ini. Tak hanya itu, perekonomian China, Eropa dan Jepang yang positif juga menjadi laju dorong perbaikan ekonomi global.

 

Teddy Oetomo, Head of Intermediary PT Schroders Investment Management Indonesia menjelaskan kenaikkan perdagangan dunia dan harga komoditas saat ini merupakan hasil dari perbaikkan ekonomi, alih-alih sebaliknya.

Stimulus yang terus diupayakan global menggenjot naiknya permintaan sejak 2008 mulai menunjukkan hasil sekarang.

“Hasil ini didapat dari sengsara bertahun-tahun sejak 2008,” kata Teddy pada Paparan Macro Economic Outlook and Investment Strategy 2018 di Commonwealth Bank, Jakarta (10/1).

Perbaikkan pertumbuhan ekonomi global dapat menjadi katalis positif bagi ekonomi Indonesia. Target pertumbuhan ekonomi 5,4 persen yang dicanangkan pemerintah dinilai Teddy cukup realistis san mampu dicapai.

Namun, pemerintah mampu menjaga pertumbuhan konsumsi di tahun 2018 menjadi prasyarat.

Perbaikkan harga komoditas saat ini mampu mendorong konsumsi masyarakat di daerah yang bersandar pada sumber daya komoditas seperti Sumatera dan Kalimantan.

Akan digelarnya Pikada serentak di 17 provinsi tahun ini dan kemudian jelang Pilpres 2019 dinilai Teddy juga akan mendorong konsumsi dari perputaran dana kampanye.

Pemerintah pun juga makin fokus menggenjot anggarannya. “Selain itu di Indonesia bakal ada IMF meeting dan Asian Games. Jadi tahun ini kayaknya lumayan matang dari sisi pertumbuhan ekonomi.”

Meski akhir tahun lalu, bursa saham Indonesia mengalami penarikan dana asing (cashflow) sekitar Rp 40 triliun dan merupakan penarikan terbesar sepanjang sejarahnya, Teddy meminta publik melihatnya secara holistik.

Hal yang mesti dicermati adalah memerhatikan juga jumlah investasi yang masuk ke Indonesia.

Investasi asing yang masuk ke bursa saham tanah air tahun 2017 mencapai Rp 1.800-an triliun, sementara tahun 2016 jumlahnya Rp 1.600-an triliun.

Ada kenaikkan harga pasar saham Rp 200 triliun. “Yang ditarik keluar hanya Rp 40 triliun. Itu kecil banget karena artinya nvestor hanya menarik sebagian kecil keuntungannya dan itu nggak sampai 20 persen. Memang kalau melihat angka cashflow semata itu penarikan paling besar sepanjang sejarah kita, tapi yang perlu diingat pasar kita makin gede.”



Reporter: Fitri Kumalasari

Editor : Mukhlison

Fitri Kumalasari
11-01-2018 09:53