Main Menu

HKTI Perempuan: Impor Beras Jangan Sampai Matikan Petani

Wem Fernandez
15-01-2018 10:42

Pengendara motor membawa beras (Antara/Umarul Faruq/yus4)

Jakarta, Gatra.com - Harga beras selama sepekan ini di berbagai daerah di Tanah Air mengalami kenaikan. Seperti di Pasar Ampel Boyolali, Jawa Tengah, harga beras yang biasanya dijual dengan harga Rp 8.000 naik menjadi Rp 12 ribu per kg. Beras jenis unggul juga mengalami kenaikan dari 9 ribu menjadi Rp 12.500 per kg. Juga beras ketan yang biasanya Rp 15 ribu nai menjadi Rp 25 ribu per kg.


Harga beras di Banten juga tetus mengalami kenaian, harga beras jenis Cimanuk dengan kualitas terbaik kini naik dengan harga bervariasi mulai Rp 10 ribu hingga Rp 12 ribu. Akibat kenaikan harga ini para pedagang juga menjual dengan kualitasnya buruk, beras ini yang biasanya dijual dengan harga Rp 6 ribu naik menjadi Rp 8 ribu per kg.

Pemerintah memutuskan untuk mengimpor beras untuk menjaga pasokan beras nasional sebelum musin panen raya pada bulan Maret mendatang.

Sementara Kementerian Pertanian mengatakan stok beras nasional tetap aman tidak mengalami gangguan. Menteri Pertanian Amran Sulaeman mengatakan, kondisi hujan tahun lalu masih tergolong normal, di mana musim hujan sudah mulai terjadi di bulan Oktober.

Oleh sebab itu musim tanam tidak mundur di bulan Oktober sehingga pada Desember kemarin sudah terjadi panen sebagian. Dengan tidak terganggunya musim tanam Kementan memperkirakan saat ini masih ada potensi padi yang panen sebesar 5-6  juta gabah.

“Oktober hujan, umur padi kan 3 bulan berarti Desember sudah panen, apalagi Januari. Kemudian di Februari, kalau kondisi normal seprti tahun 2017 itu panen memasuki puncaknya pada Februari, jangan disamakan di tahun 2018,” kata Amran kedapa media beberapa waktu lalu.

Sementara Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, impor beras dibutuhkan untuk menjaga pasokan nasional sebelum musim panen raya pada Maret 2018. Impor beras akan didatangkan dari Vietnam dan Thailand, dengan total sebesar 500 ribu ton yang akan dilakukan Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI).

“Kami tunjuk PPI, badan usaha milik negara yang melakukan impor beras. Kenapa tidak Bulog? Supaya jelas. Ini untuk mengisi stok beras nasional dan Insya Allah masuk pada akhir Januari ini,” jelas Enggar.

Sementara, Ketua Umum Perempuan Tani HKTI Dian Novita Susanto mengatakan, setiap kali pemerintah melakukan kebijakan impor beras tentunya melalui beberpa mekanisme untuk sampai pada keputusan tersebut.

“Yang perlu diperhatikan dan menjadi perioritas adalah konsumen dan petani yang meghasilkan komoditi ini. Sebagai komoditi utama tentunya jangan sampai merugikan kepentingan dua pihak tersebut,” ujar Dian, di Jakarta, Ahad (14/1).

Dian mengingatkan, satu lagi adalah beras jenis apa yang akan diimpor, jangan sampai impor ini malah mematikan beras produksi lokal. Dan yang penting juga adalah harus melihat daerah mana yang mengalami surplus beras.

Dalam proses impor dan saat masuk ke pasar tentunya juga harus diawasi secara ketat agar tepat sasaran. Sehingga beras impor ini benar-benar mampu menyelesaikan persoalan yang ada.

Hal ini penting, lanjut Dian, jika tidak diperhatikan yang terjadi adalah kebijakan impor beras hanya sebuah kebijakan yang instan dari pemerintah, bisa dikatakan pemerintah tidak mampu mencari solusi tepat terhadap persoalan tentang beras.


Reporter: Wem Fernandez
Editor: Arief Prasetyo

Wem Fernandez
15-01-2018 10:42