Main Menu

Pertumbuhan Konsumsi di Luar Rumah Meningkat 61 Persen

Arif Prasetyo
16-01-2018 19:34

Pengunjung memilih barang yang mendapat potongan harga di salah satu Mal di Jakarta. (ANTARA/Rivan Awal Lingga/FT02)

Jakarta, Gatra.com – Masyarakat Indonesia maupun di belahan dunia lainnya lebih sering mengonsumsi produk siap santap di luar rumah. Di  Asia, termasuk Indonesia, memilih air mineral dan teh sebagai pilihan utama konsumen. Sedangkan konsumen di Eropa, memilih kopi sebagai pilihan utama untuk konsumsi di luar rumah.


Hasil survei yang dilakukan perusahaan riset pasar Kantar Worldpanel Indonesia mengungkapkan konsumsi masyarakat di luar rumah (out of home) terus mengalami kenaikan seiring dengan perubahan perilaku masyarakat.

New Business Development Director Kantar Worldpanel Indonesia, Fanny Murhayati mengatakan, survei kami menunjukkan komposisi konsumsi masyarakat di luar rumah 61%, sedangkan konsumsi barang untuk dibawa pulang (in home) 39%,.

“Survei yang ditujukan kepada produsen/distributor untuk mengetahui sejauh mana perilaku belanja masyarakat sesuai dengan penghasilan, usia, status sosial serta kategori lainnya karena sangat menentukan dalam memilih produk sesuai harga, ukuran kemasan, rasa, dan lain sebagainya,” ujar Fanny, di Jakarta, Selasa (16/1).

Untuk survei ini, lanjut Fanny, Kantar Worldpanel Indonesia melakukan tracking pada lebih dari 20 kategori, melibatkan lebih dari 30 ribu panelis dan mencakup 98% populasi perkotaan di Indonesia.

Fanny menambahkan, survei ini memberikan manfaat kepada para pelaku/ pemain fast moving consumer goods (FMCG) terutama makanan dan minuman dalam menyusun strategi pasar agar sesuai dengan perilaku konsumen.

“Kami melibatkan ibu rumah tangga sebagai panelis untuk mencatat pengeluaran in home dan out of home. Karena mereka yang tahu persis berapa pengeluaran per bulan serta diperuntukan buat apa saja,” terang Fanny.

Sementara, Account Director Kantar World Panel Indonesia, Andi Siswanto mengatakan, terdapat dua perilaku yang berbeda untuk konsumsi di luar rumah dan di rumah. Konsumsi di luar rumah tidak direncanakan dalam artian jika sedang haus tentunya akan segera mencari warung atau mini market terdekat untuk membeli minuman, berbeda dengan konsumsi di rumah yang penuh dengan perencanaan sesuai dengan kemampuan keuangan, kebutuhan, termasuk lokasi belanja.

Andi menambahkan, dalam bersaing memenangkan pilihan konsumen, para pemain FMCG tidak hanya berkompetisi di dalam satu kategori, tetapi juga antar kategori yang berbeda. Misalnya untuk produk siap minum, air mineral, teh siap saji, minuman isotonik dan lainya akan saling bersaing untuk produk pelepas dahaga.

Demikian pula untuk kategori makanan, biskuit, coklat atau kategori siap makan lainnya, juga akan saling bersaing untuk produk pemenuh rasa lapar.

Hampir semua konsumen di perkotaan besar di Indonesia pernah mengonsumsi produk siap saji. Sehingga para pemain FMCG harus berlomba untuk meningkatkan frekuensi belanja, dengan memenangkan momen dan kesempatan.

Andi mengungkapkan terdapat empat hal yang harus diperhatikan pelaku FMCG untuk menarik pasar “out of home” yakni ketersediaan barang/produk, tipe dan keragaman produk, harga, dan inovasi.

Terkait ketersediaan barang/ produk, Andi menjelaskan pentingnya pelaku FMCG melihat momentum ketika konsumen memilih produk yang dikonsumsi di luar rumah untuk melepaskan dahaga atau mengisi rasa lapar.

“Dengan bayaknya pilihan produk yang ditawarkan, dan banyaknya alternatif distribusi, para pemain FMCG perlu memastikan bahwa produk mereka terpilih, tersedia dan dapat dijangkau dengan mudah. Mini market merupakan salah satu distribusi yang berkontribusi terhadap pertumbuhan pasar secara keseluruhan. Meski demikian, pasar tradisional masih vital karena 80% pembelian konsumsi di luar rumah dikontribusi dari distribusi ini,” kata Andi.


Editor: Arief Prasetyo

Arif Prasetyo
16-01-2018 19:34