Main Menu

Musim Panen Raya, Kementan Pastikan Stok Pangan Aman

Fahrio Rizaldi A.
20-01-2018 03:46

Petani merontokan gabah saat panen padi. (ANTARA/Yulius Satria Wijaya/FT02)

Blora, Gatra.com - Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan stok pangan akan kembali stabil. Pasalnya, pada bulan ini sampai Maret mendatang sudah memasuki masa penen di seluruh Indonesia.


Demikian keterangan Direktur Jenderal (Dirjen) Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan), Spudnik Sujono saat memantau langsung prosesi panen raga di Desa Tanjung, Kecamatan Kedungtuban, Blora, Jawa Tengah (Jateng), Jumat (19/1).

"Artinya, kami beritahukan ke publik, bahwa sejak Januari ini kita terus panen dan stok (pangan) aman," ujar Spudnik dalam keterangan tertulis yang diterima Gatra.com.

Bulan ini, lanjut Spudnik, panen akan terjadi di lahan seluas 854 ribu hektare. Diprediksi dari panen ini dihasilkan gabah sebanyak 4,2 juta ton, yang berarti akan menghasilkan beras sebanyak 2,7 ton. Pun pada bulan Februari mendatang, panen akan dilaksanakan di lahan seluas 1,64 juta hektare dengan hasil panen mencapai 5,4 juta ton beras.

Puncak panen raya diprediksi akan terjadi pada bulan Maret mendatang. Panen akan dilaksanakan di lahan seluas 2,3 juta hektare dengan hasil 11,8 juta ton gabah kering yang setara dengan 7,4 juta ton beras.

"Ada beras, tidak usah panic buying, dan antri beras itu tidak ada. Kami hanya menunjukkan ini yang dilakukan Kementan. Jajaran Pemerintah Daerah juga sudah berbuat untuk pangan kita aman," ujarnya.

Sementara itu, sebelumnya pemerintah telah berencana untuk mengimpor 500 ribu ton beras pada akhir Januari ini. Beras tersebut dipasok dari Thailand dan Vietnam, yang bertujuan untuk menjaga cadangan beras di gudang Bulog.

Sejumlah pihak menyayangkan keputusan impor ini, seperti yang disampaikan para anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI saat melakukan Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Kementan dan Perun Bulog belum lama ini. Sebagian besar anggota DPD menyatakan pasokan pangan stabil di daerah, sehingga kebijakan impor beras sebesar 500 ribu ton itu tak perlu dilakukan.


Reporter: Rizaldi Abror
Editor: Iwan Sutiawan

Fahrio Rizaldi A.
20-01-2018 03:46