Main Menu

Pemerintah Harus Antisipasi Kenaikan Harga Minyak Dunia

Dara Purnama
26-01-2018 14:20

Ilustrasi. (Shutterstock/AK9)

Jakarta,Gatra.com  - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Rofi' Munawar mengingatkan pemerintah melakukan antisipasi terhadap trend kenaikan harga minyak dunia yang fluktuatif. Dalam tiga bulan terakhir harga minyak dunia berada pada kisaran 60 USD/barel.

Harga International Crude Price (ICP) berpotensi mendorong pembengkakan subsidi energi nasional. Hal ini bisa terjadi seperti tahun 2018, di mana besaran subisdi BBM dan LPG 3 kg tahun 2017 menjadi Rp 47 triliun dari target APBN P 2017 sebesar Rp 44,5 triliun.

"Kenaikan harga minyak dunia dipengaruhi oleh banyak faktor, utamanya dari sisi eksternal seperti situasi geopolitik dan komitmen pembatasan produksi minyak global dari negara produsen. Menyikapi kondisi tersebut perlu strategi yang cermat dan jitu dari pemerintah dalam mengelola subsidi energi" kata +Rofi' Munawar dalam rilis pers pada hari Jumat (26/1) di Jakarta.

Rofi meminta Pemerintah segera merumuskan formula dan strategi yang tepat dari setiap kenaikan angka ICP yang berkembang. Terlebih kenaikan ICP secara faktual tidak sesuai alokasi anggaran energi yang telah dipatok pada APBN 2018 sebesar 46 ribu barel per hari. Selain itu dirinya juga meminta pemerintah secara efektif meningkatkan produksi migas nasional. Ironisnya, cukup banyak lapangan minyak yang pengelolaannya ditahun 2018 dalam fase terminasi dan transisi.

"Kenaikan harga minyak dunia harus mampu dimanfaatkan oleh Indonesia sebagai peluang untuk mengungkit penerimaan negara. Meski dengan tentu saja secara hati-hati menjaga konsumsi BBM yang tetap proporsional" ulasnya.

Legislator asal Jawa Timur ini menambahkan, harga minyak yang lebih tinggi dapat menyebabkan pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat, terutama jika belanja konsumen terdampak langsung. Padahal daya beli dan konsumsi selama ini menjadi tulang punggung menggerakan ekonomi nasional. Namun, perlu ikhtiar yang lebih serius dalam jangka panjang agar harga minyak yang lebih tinggi dapat mendorong konsumen untuk melakukan diversifikasi konsumsi.

"Indonesia saat ini menghadapi penurunan cadangan energi fosil khususnya minyak bumi, ini terus terjadi dan belum diimbangi dengan penemuan cadangan baru. Disisi lain, konsumsi energi terus meningkat." kata Rofi.

Rofi menjelaskan bahwa dengan kondisi itu Indonesia rentan terhadap gangguan yang terjadi di pasar global khususnya produk minyak bumi yang dipenuhi dari impor. Energi Baru Terbarukan (EBT) merupakan solusi yang harusnya bisa didorong oleh pemerintah Indonesia untuk memenuhi kebutuhan akan energi.


Reporter : DPU

Editor : Sandika Prihatnala

Dara Purnama
26-01-2018 14:20