Main Menu

Pasokan Beras Petani Tergerus, Impor Siap Jadi Pilihan Utama

didi
07-02-2018 08:50

Pasar Induk Beras Cipinang (Antara/Sigid Kurniaawan/yus4)

 

 

Hal itu disampaikan Ketua DPD Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras (PERPADI) DKI Jakarta Nellys Sukidi. Ia menunjuk salah satu indikatornya yaitu pasokan beras di pasar induk Cipinang, Jakarta. Posisi stok Minggu (4/2), berada pada angka 22.707 ton perhari. Padahal, dalam kondisi normal rata-rata stok beras berkisar pada 25.000-30.000 ton per hari.

“Indikator kurang itu karena pasokan di Cipinang kan. Untuk menambah itu dilakukan dengan operasi pasar. Tapi kalau hanya mengandalkan operasi pasar saja tetap tak berdampak. Satu sisi, stok yang ada di Bulog kan jauh dari ikhtiar, itu yang harus dibenahi semuanya,” kata Nellys.

 
Ia menegaskan, kurangnya stok beras di pasaran ini menurutnya telah terjadi sejak November 2017 silam. Penyebabnya, pasokan dari petani yang terus menurun akibat berkurangnya lahan padi. Ironisnya lagi, pemerintah terkesan lupa menyeimbangkan ketersediaan lahan dengan kebutuhan penduduk yang terus bertambah.

 
Alhasil, pemerintah mau tak mau harus melakukan impor untuk menutup kekurangan tersebut. Persoalannya lagi,  beras impor harus menyelaraskan harga di pasaran.

“Dulu lahan pertanian yang ada di Cikarang itu banyak sekali. Sekarang sudah dikonversi jadi lahan non pertanian, siapa yang bertanggungjawab atas hasil itu? Kasihan petani,” ungkapnya.


Menurut dia, yang penting impor beras yang dilakukan tak merugikan petani. “Kalau nggak ada barang di Bulog, siapa yang jamin panen yang akan datang itu berlimpah. Kan belum tahu masih berbentuk tanaman, masih di lahan. Itu barang masih di sawah jangan dipandang sebagai buffer stock,” tuturnya.

 

Di penghujung tahun 2017 kemarin, Kementerian Perdagangan bersama Bulog rajin melakukan operasi pasar untuk menstabilkan harga, khususnya beras. Langkah tersebut diyakini bisa menahan harga yang melambung di akhir tahun akibat permintaan yang meningkat.

 

Namun, memasuki bulan kedua 2018, harga beras masih ternyata masih tetap tinggi. Permintaan yang tinggi tidak lagi menjadi faktor utama, lantaran pada faktanya suplai memang menipis. Kendati begitu, Kementerian Pertanian masih bersikukuh stok beras masih cukup, sementara panen sebentar lagi terjadi.

 
Terhadap hal ini, Direktur Utama Bulog, Djarot Kusumayakti  menyatakan senada, Stok Bulog memang sudah terlihat mulai menurun sejak Desember 2017. Hingga saat ini, posisinya terus menurun dan hanya berada di angka 700 ribu ton per 4 Februari 2017. Padahal idealnya minimal stok beras di Bulog haruslah di atas 1 juta ton, masih jauh lebih kecil dibanding India yang menetapkan stok harsus 1,5 juta ton.

 
“Kami sudah melaporkan kepada kementerian-kementerian terkait sejak November kemarin soal stok beras ini. Ke Kemenko Pererekonomian, ke Kementerian Pertanian, juga ke Kementerian Perdagangan” tutur Djarot, di kesempatan berbeda.

 
Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Bank Benih Tani Indonesia (AB2TI) Dwi Andreas pun mengungkapkan prediksi pesimis soal ketersediaan beras. Petani-petani di daerah sentra beras bahkan sudah tidak memiliki stok beras.

 
Menurutnya, mayoritas gudang tani di 84 kabupaten se-Indonesia kosong, karena gabah simpanan yang petani sisihkan ketika panen, telah dijual kembali untuk modal tanam musim hujan di Oktober sampai Desember. Harapannya, panen raya akan hadir di sekitar Maret-April untuk tahun ini.

 “Sekitar Januari bisa dipastikan hampir sebagian besar kosong stoknya. Mereka jadi nett consumer.  Mereka mesti beli beras dari luar,” ucapnya.


 

 



 
Reporter: Didi Kurniawan

Editor: Hendri Firzani

didi
07-02-2018 08:50