Main Menu

Swasembada Tiga Komoditas Bersamaan Dinilai Sulit Tercapai

didi
07-02-2018 19:29

Ilustrsai lahan sawah(GATRA/Ridlo Susanto/er1)

 

Jakarta, Gatra.com - Guru Besar Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas menyatakan bahwa mimpi pemerintah untuk bisa mencapai swasembada tiga komoditas utama tanaman pangan yakni padi, jagung, dan kedelai (Pajale), diyakini mustahil tercapai. Lahan yang terbatas menjadi kendala utama.

 

Berdasarkan data dari citra satelit, per 2017 lahan untuk ketiga komoditas tersebut tercatat hanya sekitar 7,7 juta hektare. Angkanya pun cenderung terus menurun dari waktu ke waktu. “Kalau kita mau berswasembada di tiga komoditas tersebut, lahan 7,7 juta hektare pasti tidak cukup,” ujar Dwi Andreas dalam keterangannya, Rabu (7/2).

 

Penambahan lahan sawah nyatanya juga sulit dilakukan. Buktinya, kata Dwi, data citra satelit pada 2013 hingga yang terbaru pada 2017 tidak berubah. Kementerian Pertanian sendiri melansir, luasan lahan sawah di Indonesia pada 2009 tercatat sebanyak 6,7 juta. Artinya, hanya ada penambahan 1 juta hektare sawah selama 8 tahun terakhir.

 

Ia memandang, harus ada yang diprioritaskan sekaigus dikorbankan, apabila pemerintah serius hendak mengejar swasembada. Padi dianggap opsi paling logis sebab merupakan kebutuhan pangan utama di masyarakat nusantara saat ini. Nilai politisnyapun dianggap sangat besar.

 

Berdasarkan data Kementerian Pertanian sendiri, tingkat produktivitas lahan sawah untuk padi, jagung, maupun kedelai hanyalah di kisaran 5 ton per hektare. Kata Dwi, jika memfokuskan hanya kepada padi, sebenarnya angka lahan seluas 7,7 juta hectare, sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan beras Indonesia.

 

Hitung-hitungannya, dengan angka produktivitas di kisaran 5 ton per hektare; luasan lahan sawah di Indonesia mapu menghasilkan sekitar 38,5 juta ton padi tiap panenannya. Ia menghitung berdasarkan indeks penanaman (IP) sawah di Indonesia saat ini berada di angka 1,5 tiap tahun. Dengan begitu, tiap tahunnya Indonesia bisa memproduksi 57,8 juta ton padi.

 

Pengamat pertanian Khudori mengatakan, dengan mengandalkan luas lahan pajale sebesar 7,7 juta hektare ataupun 8 juta hektare, upaya untuk mencapai swasembada tetap sangatlah berat.

 

Senada dengan Dwi, ia menyebut apabila tiga komoditas itu berkompetisi di lahan yang sama, ujungnya pasti akan ada komoditas yang luas panennya menurun. “Sangat berat untuk mencapai swasembada. Kalau lahannya cuman segitu, ketika satu komoditas bertambah luas panennya, otomatis akan diikuti dengan penurunan luas panen komoditas yang lain. Itu sudah terjadi puluhan tahun,” jelasnya.

 

 

Lahan Baru

 

 

 

Hanya saja, perlu diingat, angka tersebut hanya bisa diperoleh jika seluruh sawah merupakan lahan penanaman padi, tidak diselingi tanaman lain. Produktivitas tersebut pun jika dalam kondisi normal, tanpa gangguan cuaca yang berarti. Lalu, besaran 57,8 juta ton juga mengarah pada padi panen, bukan berupa beras.

 

Jika dikonversi menjadi beras, tentu beratnya akan menyusut. Untuk diketahui, dari padi menjadi beras, beratnya menysut menjadi hanya 62,8%. Jadi, jika ada besaran 57,8 juta ton padi, maka hanya menjadi 36,29 juta ton beras.

 

Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi (Kapusdatin) Kementerian Pertanian (Kementan) Suwandi sebaliknya menyatakan, hinga saat ini berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) luas lahan pertanian di Indonesia mencapai sekitar 8 juta hektar yang tersebar dari Aceh hingga Papua.

 

"Data BPS sekitar 8 juta hektar lahan persawahan, ini masih dalam proses penghitungan kembali," ujarnya.

 

Ia menuturkan, penghitungan kembali lahan tersebut saat ini sedang ditangani oleh Badan Informasi Geospasial (BIG) yang dilakukan di 17 provinsi. Ia menilai selisih perhitungan luas lahan yang dilakukan oleh Intstitut Pertanian Bogor (IPB) adalah hal yang wajar, terlebih selisih angkanya tidak terlalu signifikan.

 

"Yah memang ada beberapa yang menyebut sekitar 7,7 juta, ada yang bilang 7,8 juta, ada yang bilang 8 juta. Sekarang itu posisinya lagi di audit lahan dari BIG jadi kami masih menunggu hasil akhirnya," jelas Suwandi.

 

Terkait adanya penambahan lahan pertanian baru sebagaimana kebijakan Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Suwandi mengatakan masih dalam pengembangan di sejumlah tempat. Berdasarkan informasi akan ada sekitar 200 ribu hektar lahan pertanian yang tersebar di beberapa provinsi.

 

"Iya itu cetak sawah sekitar 3 tahun terakhir itu ada 200 ribuan hektar di seluruh indonesia," jelasnya.


 

 

 

Reporter: Didi Kurniawan

Editor: Rosyid

didi
07-02-2018 19:29