Main Menu

Jepang Naikkan Peringkat Ekonomi Indonesia

Flora Librayanti BR K
10-02-2018 20:35

Luhut Pandjaitan saat memberikan kuliah umum di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran, Yogyakarta(Dok. Maritim.go.id/re1)

Yogyakarta, Gatra.com - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Pandjaitan mengatakan ekonomi kita makin baik. Buktinya, badan pemeringkat asal Jepang, Japan Credit Rating Agency, Ltd. (JCR) menaikkan Sovereign Credit Rating (Peringkat Surat Utang) Republik Indonesia dari BBB minus menjadi BBB.



“Ini berarti angka untuk interest uang sekarang lebih rendah. Hal tersebut menunjukkan perekonomian kita makin berkembang baik," ujar Luhut kepada para mahasiswa saat memberikan kuliah umum dengan tema "Pengembangan Industri dan Jasa Maritim Indonesia untuk Mewujudkan Visi Poros Maritim Dunia" di Auditorium Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran, Yogyakarta, Jumat (9/2).

Lembaga JCR menuliskan bahwa sejak pemerintahan Joko Widodo pada 2014 lalu telah terjadi reformasi struktural di Indonesia yang menciptakan keberlanjutan pertumbuhan dan tidak bergantung pada sektor sumber daya alam. JCR mencatat adanya perbaikan iklim investasi di Indonesia yang ditandai peningkatan investasi swasta dari dalam negeri maupun asing. Pembangunan infrastruktur juga sangat masif karena komitmen tinggi dari pemerintah.

"Presiden berkomitmen untuk membangun infrastruktur di Indonesia. Belum pernah ada presiden di Indonesia yang dalam setahun empat kali datang ke Papua hingga pelosoknya untuk memastikan pembangunan berjalan di sana. Sehingga waktu beliau diberi kartu kuning oleh mahasiswa, saya tidak mengerti, apa alasannya?  Nah, jadi sebelum bertindak kalian harus tahu dulu, apa yang kalian bicarakan atau lihat secara langsung," katanya. 

Kepada para mahasiswa ia menjelaskan bahwa sebenarnya dana yang dimiliki pemerintah saat ini hanya cukup untuk membiayai kurang dari 30% pembangunan di Indonesia. Oleh karenanya pemerintah saat ini mencari berbagai cara untuk dapat tetap melakukan pembangunan dengan menggunakan dana pemerintah seminimal mungkin.

Lebih jauh Menko Luhut menjelaskan bahwa masih ada yang bisa dijadikan sumber potensi ekonomi Indonesia, yaitu luasnya laut dan panjang garis pantai yang dimiliki Indonesia. Panjang garis pantai yang mencapai 99.093 kilometer dan potensi ekonominya yang bisa mencapai US$1,2 trilyun per tahun belum dimanfaatkan secara maksimal.

"Banyak yang bisa digarap, mulai dari sektor perikanan tangkap dan perikanan budidaya, industri pengolahan hasil perikanan dan bioteknologi kelautan, pertambangan dan energi, pariwisata bahari, perhubungan laut dan industri jasa maritim. Setelah sekian lama diabaikan, kebijakan poros maritim dunia diharapkan mampu menjadi momentum kebangkitan ekonomi maritim Indonesia di masa depan,” terangnya kepada para peserta kuliah umum.

Menurut Menko Luhut hal ini juga bisa menjadi modal yang cukup kuat untuk memenuhi kebutuhan garam konsumsi maupun industri di dalam negeri agar Indonesia tidak lagi impor garam industri pada 2020.

"Nanti kita pakai teknologi yang lebih baik sehingga produksinya bisa lebih bagus, dengan kadar garam mencapai 98 persen," ujarnya. Menko Luhut menambahkan pemerintah telah menyiapkan 30 ribu hektar lahan ladang garam di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).





Editor : Flora L.Y. Barus


Flora Librayanti BR K
10-02-2018 20:35