Main Menu

Strategi Angkasa Pura 1 Menambah Kapasitas Penumpang Tahun Ini

Fahrio Rizaldi A.
13-02-2018 14:49

Kunjungan Menteri Pariwisata Arief Yahya di Kantor Pusat Angkasa Pura I. (Dok. Kemenpar/FT02)

Jakarta, Gatra.com - Menteri Pariwisata (Kemenpar), Arief Yahya tengah gencar mengejar kapasitas penumpang penerbangan yang mencapai 25,5 juta tahun ini. Saat ini, target tersebut masih kurang sebanyak 1,1 juta seats.


Maka dari itu, Menpar menggelar roadshow ke pihak Airports, Airlines, dan Authority (3A). Pada Senin (12/2) kemarin, Arief bersama tim Kemenpar mengunjungi markas PT Angkasa Pura I. Sebelumnya, Arief telah melakukan kunjungan ke Angkasa Pura II, dan berbagai maskapai seperti, Garuda Indonesia, Lion Air, Air Asia, dan Sriwijaya Air.

"Target wisman (wisatawan mancanegara) tahun ini 17 juta, dengan asumsi 75% (diperoleh dari) airlines, maka point pentingnya ada diakses," kata Arief Yahya, di Gedung Kemenpar, Jakarta Pusat, Selasa (13/2).
 
Untuk itu, Kemenpar berkolaborasi melalui program Indonesia Incorporated dengan elemen 3A. "Karena itu semua unsur 3A harus dibedah, dioptimalkan dan berkolaborasi untuk Indonesia Incorporated. Saya senang, semua pihak saling mensupport, mencari solusi untuk menambah jumlah seats," tutur Menteri asal Banyuwangi, Jawa Timur ini.

Seperti yang dilakukan AP I, kata Arief, yang telah merancang strategi selama tahun 2018 ini. Demi mendukung target 17 juta wisatawan, AP I akan mempermudah penambahan kapasitas penumpang penerbangan.

Direktur Utama AP 1, Faik Fahmi mengatakan, untuk memenuhi target 17 juta wisman di 2018, diperlukan pertumbuhan Year on Year (YoY) minimal 22%.

"Tidak bisa mengandalkan bandara selain Ngurah Rai Denpasar (DPS) dan Soekarno-Hatta Cengkareng (CGK), karena kontribusinya hanya 10%. Makanya pintu masuk bandara DPS diharapkan bisa tumbuh lebih dari 22%," jelasnya.

Pengembangan kapasitas Bandara Ngurah Rai pun harus dilakukan. Tujuannya, untuk menambah porsi frekuensi maupun rute baru. "Jumlah internasional seats capacity baru yang harus dibangun di Bandara Ngurah Rai tahun 2018, minimal 600.000 seats, atau setara dengan 5 WB (Wide Body) daily ditambah  5 NB (Narrow Body) daily," ungkap Fahmi.

Mengenai rencana pengembangan, kata Fahmi, mulai September 2017 lalu pergerakan pesawat per jam di Ngurah Rai Bali ditingkatkan menjadi 33 kali, dari 30 pergerakan.

Aksi lain yang digarap adalah peningkatan arus internasional di Bandara Sam Ratulangi Manado, Lombok International Airport (LIA), dan Adi Sutjipto Yogyakarta. Ketiga bandara itu membukukan pertumbuhan yang cukup tinggi di tahun 2017.
 
"Airlines memerlukan stimulus untuk mengembangkan network-nya, maka dari itu AP 1 berharap bisa mendukung paket insentif bersama untuk mendorong pengembangan rute airlines," jelasnya.

Insentif yang disiapkan AP 1 antara lain diskon landing fee hingga 100% untuk rute baru, promosi untuk bandara, dan insentif untuk pertumbuhan penumpang.

Selain strategi itu, lanjut Fahmi, fasilitas Tourist Information Center (TIC) juga harus disediakan di setiap bandara. Pihak AP 1 saat ini telah mengembangkan protorype TIC standar internasional di terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta.

Di tahun ini, ada jutaan calon wisman yang akan melakukan kunjungan Incentive Tour dari Pemerintah Tiongkok. Untuk mengakomodasi mereka, AP 1 tengah menyiapkan slot charter khusus di luar tambahan slot baru.

Menpar Arief mengapresiasai strategi AP 1 yang dinilainya sangat membantu meningkatkan kunjungan wisatawan.

"Dalam memenuhi kebutuhan seat kita lakukan peningkatan kapasitas airport dengan berbagai strategi. Perlu pembangunan fisik, pengembangan bandara dan pembangunan bandara baru. Ini luar biasa," kata Arief Yahya.


Reporter: Rizaldi Abror
Editor: Arief Prasetyo

Fahrio Rizaldi A.
13-02-2018 14:49