Main Menu

Petani Pengamat Cuaca: Dampak Anomali Cuaca di Lahan Pertanian Indramayu

Fahrio Rizaldi A.
14-02-2018 16:32

Area persawahan mengalami kekeringan. (GATRA/Hernawadi/FT02)

Indramayu, Gatra.com - Para petani yang tergabung dalam Kelompok Pengukur Curah Hujan (KPCH) Indramayu, Jawa Barat, melakukan evaluasi pengamatan cuaca di bulan Januari. Evaluasi ini dilakukan di Desa Mekar Waru, Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.


Berdasarkan pengamatan selama bulan Januari lalu, terdapat anomali yang tercatat yaitu cuaca kering di musim penghujan. Koordinator wilayah Zona Barat Utara (BU) Abas Kartam mengatakan, cuaca kering ini terjadi di sejumlah kecamatan, yaitu Sukra, Patrol, dan Kandang Haur.

"Jumlah hari kering terpanjang adalah di Barat Utara Curug (BUCR) yaitu selama 51 hari kering mulai pertengahan Desember sampai Januari, dan awal Februari," kata Sukra, dalam keterangan terulis Rabu (14/2).

Untuk wilayah Barat Udara, Sukra melaporkan anomali cuaca ini berpengaruh kepada penyemaian. Di Desa Curug, Kecamatan Kandang Haur, per tanggal 13 Januari lalu belum ada kegiatan semai.

Sementara itu, untuk Zona Barar Selaran (BS) yang disampaikan oleh koordinator  wilayah, Carma mengungkapkan terdapat tiga wilayah yang dipantau. Yaitu Desa Gabus Wetan, Gantar, dan Kroya. Usia tanaman pada masa primordia ini, tidak terjadi hujan di bulan Januari pada 10 hari terakhir.

"Akibatnya, tanaman padi mengalami stres dan keluarnya malai tidak maksimal," ungkap Carma.

Laporan pengamatan di Zona Timur Selatan disampaikan oleh koordinator wilayah, Dadi. Dia melaporkan hasil mengamatan di Kecamatan Lelea, Cikedhung, Bangodua, dan Widasari. Laporan Dadi berfokus pada usia tanaman dalam 40 hari setelah tanam (HST).

Di wilayah Timur Selatan, jumlah hari kering termasuk yang terpanjang, yaitu 24 hari berturut-turut. "Wilayah TS sebagian besar dialiri irigasi teknis. Namun berdampak pada penyakit bercak coklat pada tanaman padi," jelasnya.

Koordinator Zona Timur Utara (TU) Condra menyampaikan laporan untuk wilayah Kecamatan Lohbener, Arahan, Cantigi, Pekandangan Jaya, dan Bolangan. "Jumlah hari kering di wilayah Timur Utara mencapai 7 sampai 15 hari, dan yang terpanjang sampai 19 hari di kode stasiun Timur Utara Pekandangan Jaya (TUPJ) akibat minimnya curah hujan sampai petani rela memompa dari irigasi untuk mengairi di areal persawahan," ungkapnya.

Pada Januari lalu, KPCH sebenarnya telah mendapatkan skenario musiman untuk memprediksi curah hujan. Mereka menginfokan kepada petani tentang terjadinya fenomena La Nina.

"Jika dikaitkan dengan data probabilitas saya, untuk bulan Februari curah hujan mencapai 220 milimeter ke atas tapi kenapa jumlah curah hujan bulan Januari di bawah 100 milimeter mungkin ini yang dinamakan anomali," ujar Tatang, anggota KPCH.

Ketua KPCH Indaramayu Nurkilah menyimpulkan, curah hujan di sepuluh hari pertama bulan Januari di masing-masing wilayah berada pada level di bawah 100 milimeter.

"Nah, pada dasa harian (10 hari) kedua, dan ketiga tidak ada hujan, alhasil wilayah yang tadah hujan, banyak tanaman yang stres dan tumbuh kurang maksimal, kemudian daerah yang jauh dari irigasi harus memompa, tambah biaya," urainya.

Anomali cuaca ini menyebabkan kekeringan di lahan sawah, dan mengakibatkan gagal panen. Tak hanya itu, tidak adanya hujan selama 24 hari berturut-turut, sejumlah petani di wilayah irigasi teknis pun kena dampak itu sehingga harus mempompa air dari sungai. KPCH menyimpulkan, perubahan iklim sudah amat nyata.

"Bisa disampaikan bahwa ke depan akan semakin bertambah jumlah hari kering. Akan semakin berkurang jumlah hari basah, tetapi jumlah curah hujan dalam sehari bisa tinggi, dan seterusnya. Petani perlu memahami perubahan iklim itu sendiri pasalnya supaya tidak gagal panen," tukas Nurkilah.


Reporter: Rizaldi Abror
Editor: Arief Prasetyo

Fahrio Rizaldi A.
14-02-2018 16:32