Main Menu

Tiga  Calon Deputi Gubernur BI Bicara Kebijakan Moneter 

Mukhlison Sri Widodo
19-02-2018 05:28

Bank Indonesia (GATRA/Rifki M irsyad/FT02)

Jakarta, Gatra.com - Presiden Joko Widodo telah mengajukan kandidat calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) ke DPR. Ada tiga nama yang diajukan presiden. 

Mereka adalah Dody Budi Waluyo, Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter. Kemudian ada Doddy Zulverdi Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI.  Dan Wiwiek Sisto Widayat, saat ini menjabat Kepala Perwakilan BI Jawa Barat.

Mereka akan bersaing untuk bisa menggantikan kursi Deputi Gubernur Perry Warjiyo yang akan purna tugas Mei nanti. Posisi ini sangat penting karena tugasnya terkait kebijakan dan pengawasan bidang moneter. 

Apalagi tugas inti BI salah satunya adalah menjaga stabilitas moneter yang terdiri dari pengendalian inflasi dan nilai tukar. 

Kepada wartawan Gatra, tiga kandidat itu telah memberikan paparan terkait visinya mengenai kebijakan moneter ke depan, juga seperti apa kebijakan keuangan yang diperlukan Indonesia dengan segala perkembangannya.  

Menurut Dody Budi Waluyo, perekonomian domestik menghadapi tantangan dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan dan inklusif. 

“Tantangan juga terkait dengan upaya membawa perekonomian Indonesia segera keluar dari kelompok negara berpendapatan menengah menuju negara maju,” katanya kepada wartawan Gatra, M. Egi Fadliansyah.

Tantangan tersebut, ia melanjutkan, bersifat siklikal dan jangka pendek baik dari global maupun domestik. 

Tantangan dari luar atau secara global, berkaitan dengan upaya memitigasi berbagai risiko seperti normalisasi kebijakan moneter negara maju, hingga perlambatan pertumbuhan ekonomi Tiongkok. 

“Juga dampak lanjutan pada penurunan harga komoditas global, dan risiko geopolitik yang meningkat di beberapa kawasan dunia,” kata Dody yang pernah menjadi anggota kelompok kerja pengendalian inflasi, juga menjabat ketua RUU amandemen BI ini. 

Sementara dari dalam negeri, tantangan domestik, terkait dengan upaya memitigasi risiko yang dapat mengganggu stabilitas aliran modal asing/nilai tukar rupiah. 

Serta  harga pangan domestik juga upaya mempercepat pemulihan ekonomi nasional. 

Sehingga dapat meningkatkan penyerapan tenaga kerja dan mengurangi kemiskinan. 
Dody menambahkan, tantangan yang bersifat struktural dan jangka menengah juga bersumber dari global dan domestik. 

Seperti upaya mengoptimalkan potensi sekaligus meminimalkan risiko dari perkembangan teknologi digital yang semakin pesat. 

Serta upaya membangun tatanan ekonomi nasional yang berdaya tahan dan produktif. 

Tantangan tersebut termasuk upaya meningkatkan produktivitas dan kapasitas perekonomian, baik di sektor riil maupun sektor keuangan sehingga dapat mendukung pertumbuhan ekonomi berkesinambungan.

Oleh karena itu, menurut karyawan BI yang sudah berkarier selama 30 tahun ini, tantangan yang mengemuka tersebut berimplikasi bahwa berbagai kebijakan perlu terus diperkuat di berbagai sektor. 

“Sehingga dapat memitigasi risiko dan sekaligus mengoptimalkan berbagai potensi perekonomian yang ada. Risiko dan potensi yang dapat bersumber dari global dan domestik,” katanya.
Dody menambahkan, Bank Indonesia sebagai salah satu pengambil kebijakan ekonomi perlu turut aktif membangun ketahanan ekonomi. 

Ketahanan ekonomi termasuk mendorong peningkatan kapasitas perekonomian melalui peningkatan inovasi dan produktivitas sebagai prasyarat pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan. 

Peningkatan kapasitas perekonomian tersebut pada akhirnya diyakini dapat mendukung upaya menjaga stabilitas harga sesuai dengan mandat yang diemban Bank Indonesia. 

Dalam kaitan ini maka peran aktif Bank Indonesia dapat diwujudkan dalam satu visi.

“Dengan memperkuat peran strategis bank sentral dalam mendorong oertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan dan Inklusif,” katanya.

###

Sedangkan Doddy Zulverdi melihat, stabilitas sistem keuangan, -termasuk perbankan- dan stabilitas moneter merupakan dua sisi mata uang yang tak terpisahkan dan saling ketergantungan dan saling mempengaruhi. 

Kerentanan sistem keuangan akan menyebabkan transmisi kebijakan moneter terganggu. Sebaliknya, instabilitas moneter dapat menjadi pemicu terjadinya krisis sistem keuangan.

Karenanya, penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan sistem keuangan pada umumnya dan perbankan (prudential banking) pada khususnya, harus dijalankan dengan konsisten. Tujuannya agar stabilitas sistem keuangan dan moneter tetap terjaga. 

Terkait kurs rupiah, menurut Doddy, Indonesia yang menganut perekonomian terbuka, pergerakan nilai tukar yang fleksibel adalah keniscayaan. 

Nilai tukar yang fleksibel menjadi alat peredam terhadap tekanan yang dihadapi oleh perekonomian domestik. Terlebih lagi tekanan yang berasal dari luar negeri.

Meski demikian, Doddy menekankan, fleksibilitas nilai tukar harus dalam batas yang tidak membahayakan perekonomian.

“Di sinilah peran Bank Indonesia, selain menjaga inflasi juga menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah sesuai fundamentalnya,” katanya kepada Umaya Khusniah dari Gatra. 

Menanggapi melemahnya rupiah dalam beberapa waktu lalu, Doddy mengatakan jika hal ini merupakan dampak dari tekanan global berupa koreksi harga saham dan obligasi di pasar keuangan internasional. 

Koreksi harga saham dan obligasi itu sendiri dipicu oleh ekspektasi investor terhadap kemungkinan terjadinya akselerasi kenaikan suku bunga.

Suku bunga yang dimaksud terutama di Amerika Serikat, pasca rilis data ekonominya yang terus membaik. Ditambah lagi disetujuinya tambahan anggaran pemerintahan Donald Trump yang akan meningkatkan defisit fiskal. 

Situasi tersebut mendorong penguatan US$ secara broad based (meluas) ke seluruh mata uang dunia, baik negara maju maupun emerging termasuk Indonesia. 

“Pelemahan Rupiah yang terjadi belakangan ini lebih merupakan respon pasar terhadap situasi global, bukan karena faktor domestik,” tambah Peraih gelar Master dari Columbia University ini. 

Doddy menyatakan, secara fundamental, cukup banyak faktor positif yang dapat menopang stabilitas Rupiah. Pertama pertumbuhan ekonomi yang berada dalam tren membaik (Q4’17 tumbuh 5,19%). Ke dua laju inflasi yang rendah (Januari 2018 sebesar 3,25%). 

Ke tiga defisit transaksi berjalan yang terkendali (tahun 2017 berada di bawah 2% thd PDB). Terakhir cadangan devisa yang relatif besar (per Des’17 mencapai lebih dari $130 miliar. 

Hal tersebut cukup untuk impor dan pembayaran Utang Luar Negeri pemerintah selama lebih dari 8 bulan.

Dengan dukungan perbaikan berbagai faktor fundamental tersebut, menurut Doddy, rupiah seharusnya dapat menguat kembali setelah proses koreksi di pasar keuangan global ini mereda. 

Bank Indonesia terus memonitor perkembangan situasi global tersebut. 

“Selain itu Bank Indonesia juga telah melakukan langkah-langkah stabilisasi di pasar valas agar volatilitas Rupiah tetap terkendali,” katanya. 

###

Masih terkait kebijakan moneter, Wiwiek Sisto Widayat menyoroti bagaimana mentransmisi kebijakan moneter dari sektor finansial perbankan ke sektor riil, ke masyarakat kemudian ke UMKM. 

Menurut Wiwiek yang pernah menjadi peneliti ekonomi di Departemen Kebijakan Ekonomi Moneter selama sembilan tahun ini menyebut, otoritas moneter dihadapkan pada kebijakan dalam sinergi kebijakan moneter dengan kebijakan di sektor lain. 

Apakah itu kebijakan fiskal atau sektor riil atau koperasi. Serta bagaimana agar kebijakan moneter dalam bentuk 7 Day Repo Rate bisa ditransmisikan ke sektor riil melalui sektor finansial. 

“Termasuk dengan menurunkan suku bunga,” paparnya kepada Aulia Putri Pandamsari dari Gatra.
Wiwiek menegaskan pengenduran kebijakan moneter sebenarnya juga tak harus identik dengan penurunan suku bunga acauan bank sentral. 

“Tidak harus menurunkan suku bunga, tapi menjaga,” kata lelaki kelahiran Sukoharjo, Jawa Tengah, 9 September 1963 ini. 

Menurunkan atau meningkatkan tergantung dari situasi ekonomi di dalam negeri, bagaimana melihat prospek dari tekanan inflasi ke depan. 

Peraih Gelar Master di Swinburne University, Australia ini juga menanggapi terkait cadangan devisa dapat berkurang. 

Pertama, bila digunakan untuk membayar utang pemerintah ke luar negeri. Pengurang yang kedua adalah ketika dalam melakukan stabilisasi rupiah. 

Atau jika terdapat pihak-pihak yang ingin memperluas cadangan di Bank Indonesia. 

“Dua hal tersebut yang bisa menurunkan cadangan devisa kita, untuk bayar utang dan stabilisasi nilai tukar rupiah,” kata Wiwiek.

Terkait kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah, Bank Indonesia memiliki peran supaya nilai tukar di masyarakat stabil tidak terlalu berfluktuasi karena nilai tukar yang berfluktuasi malah bisa merugikan pengusaha dan korporat. 

“Menstabilkan nilai tukar bisa disesuaikan dengan nilai riilnya. BI akan melakukan intervensi untuk mencoba saat nilai tukar bergejolak,” katanya.

Untuk menjaga kurs rupiah, menurut Wiwiek harus ditentukan dari demand dan supply valas.

“Termasuk dengan memperhatikan kondisi global yang juga akan mempengaruhi stabilitas makro ekonomi kita,” katanya.  


 

Editor : Mukhlison

Mukhlison Sri Widodo
19-02-2018 05:28