Main Menu

Indikator Perekonomian yang Kokoh Jadi Alasan Penting untuk Optimis saat Rupiah Melemah

Flora Librayanti BR K
06-09-2018 21:36

Rupiah melemah (Dok. Gatra/Abdul Malik MSN/yus4)

Jakarta, Gatra.com – Kondisi rupiah yang terus mengalami tren penurunan ditanggapi dengan tenang oleh pemerintah. Pemerintah optimis bahwa kondisi penurunan nilai mata uang rupiah berbanding Dolar AS yang saat ini terjadi tidak akan mencapai titik krisis moneter seperti pada 1998 silam.

 

“Pemerintah tidak panik, tetapi lebih mawas diri dalam mengobservasi data market Indonesia serta berbagai perkembangan terkini di dunia internasional,” tegas Deputi Bidang Kajian dan Pengelolaan Isu-isu Ekonomi Strategis Kantor Staf Presiden (KSP), Denni Puspa Purbasari dalam acara DBS Asian Insight Seminar bertema ‘A Look into Stability and Sustainability: Political and Economic Perspective’ di Jakarta, baru-baru ini.

Denni juga menekankan bahwa Indonesia memiliki pengalaman sebagai negara yang pernah mengalami krisis-krisis sebelumnya. Ia menggarisbawahi agar masyarakat tidak perlu panik dan reaksioner menghadapi kondisi rupiah saat ini.

“Situasi Indonesia ini jauh berbeda dibandingkan kondisi pada 1998 atau 2008. Satu hal yang pasti bahwa pada saat ini cadangan devisa kita jauh lebih kuat, lima kali lebih kuat dibanding 1998,” kata Denni. “Karena itu percayalah, pemerintah dapat melakukan aksi pencegahan agar kita tak jatuh dalam krisis,” tambah doktor ekonomi lulusan University of Colorado tersebut.


Hal positif lain menurut Denni, Bank Indonesia (BI) mencatat adanya aliran masuk modal asing mencapai US$4,5 miliar ke Indonesia. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga solid serta peringkat surat utang pemerintah tidak bermasalah. Indonesia juga berkali-kali masuk dalam investment grade yang bagus atau layak investasi menurut lima lembaga pemeringkat ekonomi.

Tak kalah penting adalah independensi Bank Indonesia. “Ini beda dengan intervensi yang dilakukan pemerintah Turki dan Argentina terhadap bank sentralnya, sehingga ada hambatan ketika bank sentral ingin menaikkan suku bunga, misalnya,” sebut Denni.


Denni menegaskan, Pemerintah tidak bersikap santai menghadapi situasi ini. “Pemerintah sangat mawas akan hal ini, dengan menguatkan koordinasi dengan otoritas moneter dan juga Otoritas Jasa Keuangan,” janjinya.

Terkait daya dukung masyarakat, Denni masih melihatnya sebagai hal yang positif. Dapat dilihat bahwa konsumsi sudah tumbuh di atas lima persen. Meski demikian, pertumbuhan ini harus terus dipantau, beserta pula beberapa indikator lainnya.


“Stabilitas ekonomi itu sangat penting, kita tidak bisa hidup dalam kondisi besar pasak daripada tiang,” tutup akademisi yang pernah menjadi anggota Tim Asistensi Menteri Keuangan Sri Mulyani untuk Kerja Sama Internasional, Tim Asistensi Menteri Perdagangan Mari Pangestu, serta Asisten Staf Khusus Wakil Presiden RI Boediono tersebut.



Flora L.Y. Barus

 

 

Flora Librayanti BR K
06-09-2018 21:36