Main Menu

Ambruknya Fragile Five Sudah Diramalkan Sejak 2015

Mukhlison Sri Widodo
08-09-2018 16:40

Ilustrasi - Nilai tukar mata uang Lira Turki (Shutterstock/FT02)

Jakarta, Gatra.com - Pengamat ekonomi Yanuar Rizky menyebutkan, ambruknya mata uang lima negara berkembang yang disebut fragile five saat ini, sebenarnya sudah diramalkan Janet Yellen, mantan Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat The Federal Reserve (The Fed), sekitar tahun 2015. 

 

“Saat itu dalam sebuah testimoni di Senat, Yellen menyatakan bila upaya normalisasi perekonomian Amerika Serikat atau tappering off dilakukan tanpa jeda, bisa berdampak pada mata uang lima negara, Turki, Argentina, India, Afrika Selatan dan Indonesia,” kata Yanuar saat di temui Gatra.com di Cikini, Jakarta Sabtu, (8/9).

Tapering off merupakan upaya The Fed menghentikan kebijakan pelonggaran kuantitatif (quantitative easing) dengan mengurangi surat berharga yang telah jatuh tempo dan tidak memperpanjangnya lagi.

Tapering dimulai pada Desember 2013. Program pembelian obligasi dikurangi dari posisi saat itu sebesar US$ 85 miliar per bulan. 

Ramalan Yellen itu pun kini menjadi kenyataan. Di tengah upaya The Fed untuk menaikkan tingkat bunga bank sentral hingga empat kali tahun ini –sudah dilakukan dua kali-, perekonomian di lima negara mengalami guncangan. 

“Karena itulah normalisasi ini direkomendasikan dilakukan secara midterm, dan bisa berlangsung hingga 2020,” kata Yanuar. Namun nampaknya rekomendasi Yellen itu tidak dilakukan di era pemerintahan Presiden Trump. Normalisasi dilakukan secara masif. 

Ini tentu saja bisa memperparah perekonomian lima negara yang dianggap rapuh perekonomiannya. Belum lagi adanya ancaman perang dagang antara Amerika Serikat dengan Cina. 

Yanuar berpendapat, salah satu yang bisa dilakukan Indonesia agar normalisasi di Amerika tidak dilakukan secara masif adalah melobi berbagai badan ekonomi dunia.

“Menteri Keuangan kita kan networkingnya luas ya, bisa saja melobi IMF atau Bank Dunia agar kebijakan di Amerika lebih lunak sehingga dampaknya tidak terlalu merusak ke kita,” kata Yanuar. 

Adanya pertemuan IMF dan Bank Dunia di Bali November mendatang, menurut Yanuar juga menjadi kesempatan yang baik bagi Indonesia untuk melakukan lobi-lobi itu. 

“Ini kesempatan yang baik agar kita juga tidak terdampak parah atas kebijakan yang diambil The Fed,” katanya. 


Mukhlison

Mukhlison Sri Widodo
08-09-2018 16:40