Main Menu

Perang Dagang Amerika-Cina Memanas, Rupiah Makin Tertekan

Flora Librayanti BR K
12-09-2018 16:32

Ilustrasi perang dagang Amerika-Cina. (shutterstock_512825482/RT)

Jakarta, Gatra.com - Berbagai pengaruh eksternal tetap menjadi faktor utama dalam pergerakan Rupiah pekan ini.

 

“Investor terus memantau sinyal gejolak lebih lanjut untuk mata uang pasar berkembang setelah beberapa pekan yang sangat mengkhawatirkan,” kata Research Analyst ForexTime (FXTM), Lukman Otunuga di Jakarta, Rabu (12/9).

Rupiah, sebutnya, akan dipengaruhi oleh pandangan investor mengenai pasar berkembang secara umum. Khususnya pada reaksi Lira terhadap data PDB terbaru Turki dan ancaman tarif dagang lebih lanjut dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

“Indikasi di awal perdagangan di Asia menunjukkan bahwa Rupee India dan Rand Afrika Selatan melemah di awal pekan ini terhadap Dolar, menandakan bahwa sentimen beli terhadap mata uang pasar yang memiliki defisit neraca yang tinggi tetap sangat rendah,” tambahnya lagi.

Dari aspek teknis, USD-IDR dapat menantang di level 14900 di jangka pendek apabila Dolar terus menguat.

Di sisi lain, investor di seluruh dunia memasuki pekan perdagangan dengan menghindari aset berisiko setelah Presiden AS, Donald Trump melipatgandakan ancaman tarif kepada Cina pada Jumat pekan lalu. Trump mengancam memberlakukan tarif tambahan pada US$267 miliar barang dari Cina, dan tindakan ini semakin memperburuk hubungan AS-Cina. Beijing menekankan ancaman bahwa pemerintah Cina akan membalasnya.

“Perang dagang AS-Cina semakin memanas. Kekhawatiran akan terjadi perang dagang besar-besaran antara dua ekonomi terbesar dunia dapat memicu penghindaran risiko, menghantam saham global dan pasar berkembang,” jelas Lukman.

Ia melihat bahwa pasar berkembang tampaknya akan tetap melemah karena ketegangan dagang global, Dolar yang menguat secara luas, dan prospek kenaikan suku bunga AS. Krisis di Turki dan Argentina dikhawatirkan akan menular ke wilayah lain, sehingga selera terhadap aset dan mata uang pasar berkembang akan semakin merosot. Prospek mata uang pasar berkembang tetap cenderung menurun di jangka pendek, terutama mata uang negara yang memiliki defisit transaksi berjalan yang besar.



Flora L.Y. Barus

 

Flora Librayanti BR K
12-09-2018 16:32