Main Menu

Lewat Kebudayaan, OJK Padang Kenalkan Pasar Modal

Nur Hidayat
05-10-2015 21:28

Kampanye pasar modal oleh OJK Padang (GATRAnews/Averos Lubis)

Padang, GatraNews - Perwakilan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Padang, Muhammad Taufik, mengatakan ada cara unik untuk memperkenalkan investasi pasar modal di masyarakat Sumatera Barat, yakni lewat kebudayaan. Caranya melakukan pendekatan kepada orang-orang berpengaruh seperti cadiak pandai, nini mamak atau dan alim ulama dengan mengikuti majelis taklim.

“OJK berdiskusi bagaimana cara mengelola keuangan, mengetahui resiko keuangan, mempraktekan produk dikeluarkan produk keuangan dan jasa keuangan,” ujarnya di Hotel Mercure Padang, Senin (5/10).

Menurutnya hal itu dilakukan supaya masyarakat Padang tidak canggung dengan berinvestasi di pasar modal. Sebab masyarakat di Padang lebih gemar berinvestasi tanah dan emas dibanding berinvestasi dalam pasar modal. Bahkan untuk menabung masyarakat Padang lebih memilih Bank Nagari dibanding Bank Mandiri, BNI, dan BCA. "Walau ada juga masyarakat menabung di bank tersebut," tuturnya.

Menurutnya hal itu dilakukan dalam 2 bulan belakang ini. Sebut saja daerah-daerah seperti di Agam, Sijunjung, Sawahlunto, Bukittinggi, dan Payakumbuh. Masyarakat kini mulai memahami pasar modal. Maklum perkembangan terkini investasi pasar modal di Sumatera Barat mengalami kenaikan.

Salah satu parimeternya, tambahnya, adalah 9 perusahaan sekuritas dan jumlah investor paling banyak berktp Sumatera Barat untuk pasar modal dari data Bursa Efek Indonesia. "Padang lebih banyak dibanding Riau dan Batam," ujarnya.

Sementara itu menurut Kepala Departemen Pengawasan Pasal Modal 2B menjaskan Yunita Linda Sari mengatakan bila ada yang mengatakan transaksi di Bursa Efek Indonesia tidak haram. Menurutnya sudah halal. Sebab produk syariah di pasar modal antara lain berupa surat berharga atau efek. Berdasarkan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal (UUPM).

Efek adalah surat berharga, yaitu surat pengakuan utang, surat berharga komersial, saham, obligasi, tanda bukti utang, Unit Penyertaan kontrak investasi kolektif, kontrak berjangka atas Efek, dan setiap derivatif dari Efek.

Produk syariah di pasar modal antara lain berupa surat berharga atau efek. Maka itu, ia menjelaskan, produk syariah yang berupa efek harusnya tidak bertentangan dengan prinsip syariah. Efek tersebut dikatakan sebagai Efek Syariah. "Hal itu sudah jelas," ucap Yunita.

Sejurus dengan Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia, Nicky Hogan menambahkan pasar modal Bursa Efek Indonesia Indonesia dalam jumlah saham syariah sudah mencapai angka 62%. "Jumlahnya 318," ucapnya.


Reporter: YOS
Editor : Nur Hidayat

Nur Hidayat
05-10-2015 21:28