Main Menu

Mendag: G20 Dorong Pemulihan Ekonomi

didi
08-10-2015 17:42

Menteri Perdagangan Thomas Lembong (ANTARA/Yudhi Mahatma)

Jakarta, GATRAnews - Menteri Perdagangan (Mendag) Thomas Trikasih Lembong mengatakan, negara-negara G20 sepakat mendorong upaya pemulihan ekonomi global. Hal tersebut diserukan para menteri perdagangan negara anggota G20 dalam G20 Trade Ministers Meeting (TMM) 2015 yang berlangsung di Istanbul, Turki, 5-6 Oktober 2015.

TMM 2015 merupakan rangkaian kegiatan G20 menuju pertemuan puncak pada 15-16 November 2015 di Antalya, Turki. Mendag Thomas, yang memimpin delegasi Indonesia pada pertemuan tersebut menyatakan kesiapan Indonesia berkontribusi dalam penguatan pertumbuhan perdagangan melalui reformasi domestik dan deregulasi.

“Sebagai negara besar, Indonesia akan memberikan sumbangan penting terhadap pertumbuhan global, sejalan dengan program pembenahan yang sedang dilancarkan Pemerintahan Joko Widodo. Dua paket kebijakan telah diluncurkan, dan satu lagi menyusul,” kata Mendag dalam siaran pers, di Jakarta, Kamis (8/10).

Sementara itu, menanggapi rekomendasi G20 dalam mengurangi hambatan proteksionisme, Mendag Tom menunjuk contoh kasus Indonesia yang tengah meninjau ulang beberapa regulasi di bidang perdagangan.

"Karena tidak sesuai dengan kepentingan pembenahan ekonomi, kami menyempurnakan empat peraturan di sektor perdagangan, serta mencabut lima aturan lainnya. Di antaranya menyangkut impor karet dan kosmetik,” ujar Mendag.

Para menteri perdagangan negara-negara G20 lainnya juga berpandangan senada mengenai pentingnya mengatasi proteksionisme yang menghambat arus perdagangan saat ini dan meniadakan potensi pertumbuhan cakupan perdagangan di masa datang. Menurut Organisation of Economic Cooperation and Development (OECD), proteksionisme pada sektor jasa sangat merugikan karena komponen jasa merupakan 50% perdagangan manufaktur.

Proteksionisme yang mengganggu mata rantai nilai global (global value chain/GVC) juga berdampak sangat negatif karena 75% perdagangan saat ini dilakukan melalui jalur GVC. Langkah tunggal untuk menghapus regulasi-regulasi proteksionis sejak 2008 saja akan mendatangkan tambahan pendapatan dunia sekitar US$757 milyar.

Kendati demikian, negara-negara maju G20 di TMM 2015 berpandangan bahwa kewajiban kandungan dalam negeri (local content requirement/LCR) termasuk salah satu isu proteksionisme yang menghambat pertumbuhan perdagangan dan investasi. Menanggapi hal ini, beberapa negara berkembang tidak sependapat.

Direktur Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional Bachrul Chairi yang mendampingi Mendag Tom menyatakan penerapan LCR tidak dapat dipukul rata sebagai distorsi. "Negara berkembang perlu memiliki ruang bernapas untuk mengembangkan infant industry agar dapat menapaki tangga GVC. Negara berkembang beranjak naik dari posisinya sebagai penyedia bahan mentah yang nilai revenue-nya rendah. Keberhasilan ini telah diperoleh Afrika Selatan," katanya.


Reporter: Didi Kurniawan
Editor: Tian Arief

didi
08-10-2015 17:42