Main Menu

Ikan Tuna Haji Daenk Tembus Pasar Amerika dan Eropa

Arif Prasetyo
03-01-2016 00:27

Jakarta, GATRAnews -Jangan menganggap enteng usaha kecil menengah (UKM) ekspor ikan tuna milik Haji Daenk Hasman. Di bawah payung UD Versace Mandiri, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, ini malah bisa menembus pasar Amerika dan Eropa. Bahkan permintaan baru bisa terpenuhi seporanya, akibat kurangnya kapal penangkap ikan.


Belum lama ini bulan Oktober 2015 Haji Daenk baru saja menerima pembeli langsung dari Amerika. “Buyer datang langsung ke pabrik kami melihat cara pengolahan ikan tuna,” ungkap Haji Daenk, di Jakarta, Rabu (30/12) lalu.

Pembeli dari Negara Paman Sam ini untuk memastikan higenis atau tidaknya pengolahan ikan tuna milik Haji Daenk. Tentu saja pengolahan di perusahaan milik Haji Daenk bukan hanya standar nasional Indonesia (SNI) tapi malah standar internasional. “Khusus di NTB ini hanya satu-satunya yang mempunyai izin,” ujarnya usai menerima penghargaan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Ia merintas usahanya pada tahun 2005 dan mampu menghasilkan rata-rata 2,5 ton ikan tuna per hari. Haji Daenk mengakui hasil produksi ini tergantung dari alam. Jika alam bersahabat, maka hasilnya pun bisa bagus.

Usaha ini berawal dari usaha keras Haji Daenk dengan meminjam modal KUR dari BRI sebesar Rp 5 juta. Dari pinjaman itu BRI mempercayakan perusahaan Haji Daenk untuk memperluas usahanya. “BRI yang membantu kami membuat gesturit dan pabrik es. Kami menjelaskan bahwa ekspor ikan ini sangat menjanjikan,” kata Haji Daenk.

Ia menambahkan, dalam satu bulan perusahaannya mampu memproduksi 50-60 ton ikan tuna. Semua itu untuk konsumsi ekspor hampir ke semua negara. Belakangan ini permintaan ikan tuna terus meningkat seiring dengan beralihnya masyarakat Amerika dan Eropa mengonsumi ayam dan daging sapi ke ikan.

“Pasar Amerika lagi kencang permintaannya, Eropa juga kencang. Mereka baru beralih makan ke ikan karena bosan dengan menu ayam dan daging,” papar Haji Daenk.

Namun, permintaan di kedua benua itu tidak bisa terpenuhi. Haji Daenk hanya bisa memenuhi separo dari permintaan buyer tersebut. misalnya mereka meminta 100 ton, tapi bisa memenuhi permintaan 30 ton. Alasannya, kurangnya alat tangkap dan armada kapal. Maklum namanya usaha kecil menengah, kata Haji Daeng. Sehingga belum mampu menyaingi pengusaha di Benoa, Bali dan Jakarta.

Untuk mengatasinya Haji Daenk mengerahkan armada semut dengan kapal ukuran 7 GT memakai sampan kecil sebanyak antara 8-10 kapal. Itu pun belum cukup menambah hasil tangkapan.

Kendala lainnya, adalah armada kapal milik Haji Daenk kalah menghadapi kapal seret dari pengusaha Benoa. Kapal ini menangkap di rumpon dengan seret, setelah itu habis semua ikannya sampai berbulan-bulan baru ada ikan lagi.
 
“Kami sudah mendiskusikan dengan Dinas Perikananan tapi belum ada tindakan. Kami nelayan kecil dan yang mengambil ikan di rumpon itu perusahaan dari Bali,” terang Haji Daenk.  

Ke depan ia berharap Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk menghidupkan rumpon, yakni tempat rumah untuk ikan di tengah laut. Selain itu Haji Daenk meminta pemerintah untuk tidak memaksakan teknologi ke daerah.
 
“Misalnya bantuan kapal ke daerah NTB itu tidak ada yang berhasil, karena tidak sesuai dengan keinginan masyarakat. Mestinya pemerintah mengikuti apa maunya masyarakat,” ungkap Haji Daenk yang memiliki karyawan di pabrik 94 orang dan di kapal penangkapan lebih 1.000 orang.


Editor: Arief Prasetyo 


Klik www.gatra.com/telkomsel untuk daftar online kartuHalo Telkomsel tanpa harus datang ke kantor GraPARI

Arif Prasetyo
03-01-2016 00:27