Main Menu

Sepuluh Perusahaan Indonesia Rambah Pasar Fashion Korsel

Dani Hamdani
31-08-2016 14:26

Stand pameran Indonesia di Preview in Seoul, Rabu, 31 Agustus 2016 (Dok KBRI Korea Selatan

Seoul, GATRAnews - Meledaknya artis-artis Korea (K-Pop) di seantero dunia membawa berkah sendiri buat KOrea Selatan. Fashion yang dikenakan para artis ternyata menjadi trend setter anak anak muda dan ditiru masyarakat dunia. Sehingga Negeri Ginseng tersebut saat   ini  tengah menjadi   salah   satu   kiblat   produk   busana   dunia.

  

Dengan penduduk 50 juta jiwa, permintaan produk fashion di Korea cukup tinggi dan meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini dapat terlihat dari besarnya impor Korea akan produk terkait TPT, rata-rata sebesar US$ 10 milyar per tahun, yang berasal dari berbagai negara, termasuk dari Indonesia.

 

Potensi yang besar tersebut sedang dimanfaatkan oleh pelaku usaha  tekstil dan produk tekstil (TPT) di dalam negeri, dengan berpartisiasi  pada pameran produk TPT terbesar di Korea berlabel 'Preview in Seoul', yang dimulai hari ini. Dalam pameran 3 hari tersebut (31 Agustus - 2 September 2016) Indonesia menampikan produk terkait TPT  seperti  yarn, fabric, garment  dan  produk  terkait  lainnya.

 

Atase Perdagangan pada KBRI Seoul bekerjasama dengan Asosiasi Perstekstilan Indonesia dan Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia, menghadirkan 10 (sepuluh) perusahaan TPT dari Indonesia. Kepada tiap peserta, KBRI Seoul memfasilitasi penyediaan booth seluas 90 m2.

 

Duta Besar Republik Indonesia untuk Korea, John A. Prasetio sangat mendukung keikutsertaan perusahaan Indonesia pada pameran ini. John juga optimis akan kemampuan produk TPT Indonesia untuk bersaing dengan produk dari negara lain yang turut berpartisipasi pada pameran Preview in Seoul ini.

 

"Keikutsertaan perusahaan TPT Indonesia pada pameran ini, dan memperhatikan produk yang ditampilkan, diyakini dapat menarik minat buyer yang hadir pada pameran. Tidak hanya sekedar tertarik akan tetapi juga diharapkan akan terjadi deal dagang dengan para buyer, yang tidak hanya berasal dari Korea akan tetapi juga buyer dari manca negara," ujar Aksamil Khair, Atdag pada KBRI Seoul dalam rilis yang diterima GATRAnews.

 

Saat   ini   pasar TPT  impor   di  Korea  didominasi   oleh  produk  yang   berasal  dari China,   yang   memegang   pangsa   pasar   sebesar   44,0%,   diikuti   oleh   Vietnam   dengan pangsa sebesar 23,2%. Walau Indonesia berada diposisi ke-3 sebagai pemasok terbesar tapi selisih dengan Vietnam cukup besar, dimana pangsa Indonesia baru sebesar 6,2% atau senilai US$ 670 juta.

 

Di Korea, dengan tingkat upah tenaga kerja yang tinggi telah menyebabkan banyak pabrik TPT nya lari ke negara berkembang. Dengan kondisi ini pelaku usaha TPT Indonesia cukup optimis, ditambah dengan berbagai upaya dan  strategi, TPT Indonesia memiliki peluang bersaing dengan produk dari negara lain di pasar Korea.  

 

Masalahnnya, menurut Alexander Rudy, dari PT Asia Citra Pratama, yang dihadapi TPT Indonesia di pasar Korea bukanlah soal kualitas, tetapi harga. Bersaing dengan produk China yang disubsidi hingga 17 persen merupakan ancaman dan hambatan terbesar TPT Indonesia dalam penetrasi pasar. Selain itu, diam-diam, perusahaan garment Korea juga telah membangun jaringan mulai dari produksi hingga pemasaran dalam negeri yang sulit ditembus. 

 

"Pemerintah Indonesia harus memberikan bantuan fasilitas yang memadai agar produsen TPT dalam negeri tidak gulung tikar. Saat ini baru ada wacana pemberian subsidi listrik. Pembatasan produk impor menjadi salah satu opsi," ujar Glen Go dari PT Sipatatex yang bermarkas di Bandung yang ikut dalam pameran.


Editor: Dani Hamdani 

Dani Hamdani
31-08-2016 14:26