Main Menu

Bachtiar Nasir Sebut Koperasi 212 sebagai Jihad Ekonomi

Andhika Dinata
07-01-2017 14:39

Jakarta, GATRAnews - Pasca bergulirnya Aksi Bela Islam 411 dan 212, Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) melanjutkan gerakan lewat program kebangkitan ekonomi Islam. Keberhasilan Aksi Bela Islam yang dihadiri jutaan umat itu menjadi sumber inspirasi untuk menggalang kekuatan ekonomi terpadu.

 

Wujudnya dengan membentuk Koperasi Syariah 212 yang menjadi bentuk rasa syukur umat terhadap kesuksesan Aksi Bela Islam sebelumnya yang berlangsung super damai. “Ini salah satu saja (bentuk) gerakan umat. Dalam waktu dekat kumpulan pesantren-pesantren besar akan membentuk perserikatan ekonomi umat”, kata Ketua GNPF MUI KH. Bachtiar Nasir saat memberikan pernyataan pers di Sentul City, Jumat (6/1).

 

Ustad Bachtiar yang beken disapa UBN itu memaparkan bagaimana pembentukan konsepsi ekonomi Islam yang diwujudkan dalam bentuk Koperasi Syariah 212 itu sebagai bentuk terobosan baru untuk melepaskan umat dari kekangan ekonomi kapitalis, yang tidak berpihak pada rasa keadilan dan kemanfaatan umat.

 

Ia menuturkan, konsep Koperasi  nantinya benar-benar dijalankan sesuai amanah Undang-Undang Dasar 1945 pasal 33, yaitu menjalankan prinsip ekonomi kerakyatan yang dipergunakan secara optimal untuk dan oleh bangsa sendiri. Koperasi 212 dinilai sebagai medium yang tepat untuk menciptakan kekuatan ekonomi umat yang berpihak pada keadilan dan kesejahteraan bersama.

 

UBN meyakini ide kelahiran “jihad ekonomi” ini akan memberikan sumbangsih bagi kebangkitan ekonomi di tanah air.

 

Menurutnya, dalam waktu dekat akan digalang komunikasi dengan pesantren-pesantren terkemuka di tanah air untuk mewujudkan ide besar tersebut. “Dalam waktu dekat kumpulan pesantren-pesantren besar akan membentuk perserikatan ekonomi umat. Yakinlah ekonomi umat akan bangkit dan Insya Allah 6 Januari akan diperingati sebagai hari ekonomi syariah," katanya lagi.

 

Sementara itu Ketua Dewan Ekonomi GNPF MUI, Dr. Syafii Antonio menyebutkan untuk pengembangan selanjutnya, setiap umat bisa berpartisipasi secara aktif dalam pembentukan dan pendirian koperasi tersebut. Syarat penyetoran dana awal tidak dibatasi sehingga kalangan kecil pun bisa ikut memberikan partisipasi. “Tukang ojek, nelayan, buruh bisa berpartisipasi, cukup dengan menyetorkan dana Rp 100 ribu,”, tuturnya.

 

Antonio menyebutkan umat Islam punya segmen ekonomi tersendiri dan jumlahnya pun sangat besar, sehingga menjadi target pasar yang baik. Selain itu sudah muncul kesadaran umat untuk terbebas dari kekangan ekonomi liberal dan kapitalis, untuk menggeser kiblat ekonomi konvensional ke syariah.

 

Antonio yang juga pakar ekonomi syariah itu menyebutkan untuk tahap awal, Koperasi Syariah 212 menargetkan aset Rp 212 miliar di tahun pertama, dan ditaksir dapat menaikkan nilai aset pada tahun-tahun berikutnya. “Di tahun ketujuh kita target Rp 21,2 triliun, dan tahun kesepuluh Rp 212 triliun,” ungkapnya lagi.

 

Dirinya menambahkan, Koperasi Syariah 212 tetap akan menjalin koordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan perbankan syariah. Koperasi juga ditargetkan akan memiliki saham di bidang waralaba, properti, manufaktur, dan ritel.***


Reporter : Andhika Dinata

Editor: Dani Hamdani 

Andhika Dinata
07-01-2017 14:39