Main Menu

Harga Anjlok, Petani Bawang Merah Brebes Merugi

Fahrio Rizaldi A.
14-12-2017 16:04

Petani menjemur bawang merah di rumahnya seusai panen. (ANTARA/Aji Styawan/FT02)

Brebes, Gatracom - Kabupaten Brebes, Jawa Tengah merupakan penghasil komoditas bawang berkualitas premium. Namun, potensi itu rupanya menimbulkan polemik.


Saat ini, para petani bawang di Brebes tengah bimbang lantaran hasil panen mereka yang melimpah tak memberi kesejahteraan. Saat ini, bawang merah Brebes dihargai Rp 10 ribu per kilogram, alias anjlok dari harga jual sebelumnya yang mencapai Rp 14 ribu per kilogram.

Suharjo, petani bawang merah asal Brebes, mencoba menghimpun keluhan petani di daerahnya. Hasilnya, para petani merasakan kerugian yang cukup besar. "Mumet, harga bawang murah," kata Kasad, satu di antara petani bawang merah di Brebes melalui keterangan tertulis, Kamis (14/12).
 
Berdasarkan data yang dihimpun Suharjo, hasil panen yang melimpah tak bisa menyejahterakan petani. Pasalnya, biaya produksi yang dikeluarkan petani untuk menanam bawang cukup tinggi. Sebagai ilustrasi, harga tebas bawang merah per petak mencapai Rp 7 juta. Namun, jika dihitung berdasarkan pengeluaran untuk biaya produksi, seperti untuk biaya pupuk, tanam, bibit, dan pengendali hama, harga itu tidak memberi keuntungan.

Kasad sendiri mengaku sudah tiga musim ini, harga bawang merah tidak bersahabat. Akibatnya, banyak petani yang memilih menyimpan dulu hasil panennya dengan harapan harga kembali tinggi di kemudian hari.

Kondisi ini diperparah oleh cuaca yang tidak bersahabat. Beberapa pekan terakhir bawang merah hasil panen mengalami pembusukan lantaran hujan. "Ada petani yang terpaksa menjual dengan harga murah untuk menutup biaya operasional, karena pupuk dan pengairan harus dibayar," ungkap Kasad.


Sebelumnya, Ketua Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI), Juwari mengungkapkan, saat ini harga bawang di tingkat petani pada awal Oktober di Brebes sempat berada pada titik terendah, yakni Rp10 ribu per kilogram. Padahal, untuk mencapai break event point alias titik impas, harga bawang seharusnya di angka Rp13.500 per kilogram. Bagi petani yang memiliki lahan 0,25 hektare, selisih harga (untung) seharusnya Rp 5.000.

"Kalau hanya dijual Rp15.000 juga hasilnya enggak nutup modal," jelas Juwari.

Menurut Juwari, petani merugi lantaran modal yang dikeluarkan sudah besar. Saat menanam, harga bibit bawang sedang naik mencapai Rp3,2 juta per kwintal. Harga normalnya Rp2,5 juta per kwintal. "Modalnya banyak tapi hasilnya sedikit," ungkapnya.

Karena itu, dia meminta kepada pemerintah untuk ikut berperan serta menstabilkan harga bawang merah. "Pemerintah jangan hanya berperan ketika harga bawang naik, tetapi juga ketika harga turun," kata Juwari.

Dia menilai keterlibatan Bulog yang dijanjikan pemerintah akan turun tangan untuk mengatasi anjloknya harga hingga saat ini juga belum berjalan. "Bahkan sebuah gudang di Wanasari yang sedianya akan dipakai untuk menampung hasil panen, sampai saat ini belum juga beroperasi," pungkasnya.


Reporter: Rizaldi Abror
Editor: Arief Prasetyo

Fahrio Rizaldi A.
14-12-2017 16:04