Main Menu

Meski Harga Cabai Naik, Kementan Tidak Akan Operasi Pasar

Fahrio Rizaldi A.
09-01-2018 14:32

Harga Cabai (GATRA/Ridlo Susanto/FT02)

Artikel Terkait

 

Jakarta, Gatra.com - Cabai rawit merah merupakan satu di antara komoditas andalan di Indonesia. Tak heran, harga komoditas ini kerap mengalami lonjakan yang cukup ekstrim. Apalagi, di saat-saat musim jelang lebaran dan akhir tahun.

Namun, anehnya, hingga  awal tahun 2018 ini, harga cabai rawit merah tak menunjukan penurunan, dan malah  terus melonjak hingga mencapai Rp. 65 ribu sampai 75 ribu per kilogram, dari harga normal yang berkisar Rp. 30 ribu. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan, akankah pemerintah khususnya kementerian pertanian akan melakukan operasi pasar untuk menstabilkan harga?

 

Menanggapi hal tersebut, Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan) Spudnik Sujono mengatakan operasi pasar hanya dilakukan ketika produksi suatu komoditas berkurang. Namun, saat ini, kata Spudnik kenaikan harga cabai tidak dipengaruhi oleh jumlah produksi. Menurut Spudnik, produksi cabai rawit merah masih stabil. "Barangnya ada, mungkin satgas pangan yang turun. Operasi pasar itu kecuali kalau produksi berkurang," jelas Spudnik, saat dihubungi media, Selasa (8/1).

Berdasarkan data Kementan, stok cabai rawit merah di Pasar Induk Kramat Jati masih sebanyak 21 ton. Ia menduga, kenaikan harga cabai rawit merah, disebabkan oleh adanya permainan harga. "Memang tata niaga (harga cabai naik). Di tingkat petani masih murah, di ritel Rp 60 ribu saja sudah nggak masuk akal," jelasnya.

Apalagi, ketersediaan cabai besar maupun cabai rawit sejak akhir tahun terus dipantau dan terjaga. Pada Desember 2017 stok cabai besar nasional sebanyak 104.064 ton, sementara kebutuhan hanya 95.652 ton atau  surplus sebesar 8.412 ton. Sedangkan pada Januari 2018 stok diperkirakan 102.153 ton, kebutuhan 93.311 ton dan kelebihan stok sebesar 8.842 ton.

Sementara cabai rawit nasional pada Desember 2017 lalu sebanyak 81.637 ton, dengan kebutuhan sebesar  73.099 ton atau  surplus 8.538 ton. Sementara, Pada Januari 2018 pasokan sebanyak 77.840 ton, dengan kebutuhan 69.843 ton, atau terdapat kelebihan stok sebanyak 8.004 ton.


Reporter: Rizaldi Abror

Editor: Hendri Firzani

 

Fahrio Rizaldi A.
09-01-2018 14:32