Main Menu

Moeldoko: Seimbangkan Supply dan Demand untuk Stabilitas Harga Bawang Merah

Wanto
11-01-2018 00:00

Ketua Umum HKTI Moeldoko (Dok. Twitter/@GeneralMoeldoko/FT02)

Jakarta, Gatra.com - Harga bawang merah di Brebes, Jawa Tengah (Jateng) untuk kualitas standar saat ini dipatok Rp 4.000 per kilogram (Kg). Sedangkan untuk kualitas super berada di angka Rp 7.000-8.000 per kg. Padahal, biasanya harga bawang merah standar di Brebes Rp 15.000 per kg. 


Kementerian Pertanian (Kementan) terpaksa turun tangan membeli bawang merah dari petani seharga Rp 15.000 per kg. Tidak hanya Kementan, pegawai Pemerintah Daerah juga diwajibkan membeli 2 kg bawang merah untuk membantu petani. 

Bulog menyatakan siap membeli bawang merah tersebut dengan harga Rp 15.000 per kg. Walaupun hal tersebut berisiko karena kondisi bawang yang mudah terpengaruh. Melihat kondisi ini, Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (Ketum HKTI), Jenderal TNI (Purn) Moeldoko menilai, untuk menjaga stabilitas harga bawang maka perlu diperhatikan faktor keseimbangan supply dan demand

"Caranya, antara lain bagaimana pemerintah dalam hal ini dinas-dinas pertanian di daerah bisa memberikan edukasi dan pemahaman tentang pentingnya mengatur keluasan lahan tanam," ujar Moeldoko di kantor DPN HKTI, Jakarta Pusat, Rabu, (10/1).

Hal ini, lanjut mantan Panglima TNI itu, tentu saja harus ditunjang oleh tersedianya database tentang lahan dan budidaya bawang merah, sehingga pemerintah bisa mengarahkan secara tepat kapan waktunya menanam. 

"Jangan sampai semua serentak menanam sehingga ketika panen terjadi over supply dan harga bawang menjadi jatuh. Apalagi petani kita itu masih terbiasa dengan pola ikut-ikutan. Artinya, lagi musim tanam bawang semua ikut tanam bawang atau lagi musim tanam kacang, semua tanam kacang. Akibatnya sering terjadi over supply," ujarnya. 

Menurut Moeldoko, harus ada kesadaran bersama bahwa keluasan lahan yang tidak terkendali akan menyebabkan over supply bawang merah. Jadi petani harus diarahkan jangan suka ikut-ikutan menanam apa yang ditanam orang lain.

"Menurut saya, seharusnya dari satu hektar petani bisa menghasilkan 15 ton per hektar dengan harga di atas Rp 10 ribu atau Rp 11 ribu. Jika di bawah itu, kemungkinan akan rugi," ujarnya. 

Moeldoko menambahkan, petani bawang merah masih terbiasa menanam dengan menggunakan biji hasil semai dan bukan dari biji. Padahal, ini jelas jadi lebih mahal dan tidak efisien. Hal ini juga harus diberikan edukasi.

"Mereka tidak sabaran. Solusi untuk mengatasi masalah harga bawang ini adalah perlu ada kesadaran bersama untuk melakukan pendekatan pola tanam berbasis teknologi," katanya. 

Dalam hal manajemen budidaya tanam, Moeldoko menilai petani bawang belum terbiasa berorientasi pada efisiensi. Indikatornya yaitu petani lebih suka menggunakan pupuk anorganik dan pestisida berlebihan. 

"Padahal tata cara seperti itu akan menimbulkan inefisien. Sebab, cara budidaya seperti itu akan merusak unsur harga sehingga dalam jangka panjang akan menimbulkan biaya tinggi (tidak efisien)," paparnya.

Moeldoko berharap, petani diarahkan untuk tidak lagi menggunakan pupuk anorganik dan pestisida secara berlebihan. Mereka diarahkan untuk lebih bertani secara organik karena ongkos produksinya menjadi lebih murah.


Reporter: Wanto
Editor: Iwan Sutiawan

Wanto
11-01-2018 00:00